RASA ANONIM

Karena beberapa hal sebaiknya dibiarkan tak terungkap, maka aku memilih diam dan membiarkan rasa itu tak bernama. Aku tahu rasa itu terlalu liar untuk dibiarkan berkembang dan berlompatan kesana-kemari sesukanya. Ada dinding yang akan berderak karena tubrukan yang ditimbulkannya walaupun tak bisa dipungkiri ada kekaguman akan percikan yang ditimbulkan setiap kali rasa itu berlompatan kesana-kemari, menubruk tanpa kendali.

HATI – si produsen rasa yang tidak seharusnya diberi nama itu – memang tidak dapat ditebak. Ketika aku melonggarkan sedikit saja penjagaan atasnya, absen beberapa waktu saja untuk mendidiknya, dia berkhianat dan membuatku tersentak.

“Apakah ini rasa….. hmm…..?”

“bukan…. pasti bukan itu namanya!!!”

Karena RASA itu memang tidak seharusnya diberi nama.

YANG HILANG

Pergi begitu saja

Tanpa suara

Tanpa ucapan selamat tinggal

Pergi  begitu saja

Menghilang

Seperti tidak pernah ada sebelumnya.

Mencari kesana kemari

Berharap bisa menemukannya kembali

Di sudut ruang barangkali

atau di bawah meja

mungkin menempel di langit-langit

 

Rasa tersenyum

Terkekeh berbisik

Aku tidak kemana-kemana

Kau yang mengabaikanku