PARODI SAMUEL MULIA : CAPCAI DEH


Pagi semwanyaaaaahhhhhhh *udah sikat gigi kok*. Hm…sorry ka sadayana…lama tidak update, sampai-sampai, si jeng satu ini berkunjung dan meninggalkan komen di (go)blog ini, saya baru sadar kalau sudah nyuekin blog ini beberapa lama. Tidak sempat update, blogwalking cuma sesekali, hanya sempat membalas komen-komen yang ditinggalkan di sini. Bukannya lagi sibuk atau gimana, hanya sedang menyibukkan diri saja sih. Hehehe…sok sibuk maksudnya *siap-siap curcol*.  Sudah seminggu ini saya lagi diteror sama rasa malas yang sangatttttttt lebay…alias berlebihan. Entah dari mana datangnya rasa malas ini, dan kenapa juga harus saya yang jadi targetnya. Efeknya bener-bener hebring deh. Tidak hanya blog ini yang jadi terlantar, bahkan “kandang” saya jadi benar-benar menyerupai kandang babi karena benar-benar hanya jadi tempat hibernasi. Long weekend kemaren bahkan tidak mampu menumbuhkan semangat saya. Termasuk keinginan untuk sekedar muntah menulis di  blog. Ke-sok sibuk-an saya juga masih diperparah dengan pekerjaan yang seminggu ini bikin otak saya mencrettttt…….crettttt…..oke, untuk bagian ini mungkin saya terlalu lebay.

Eniwei….berhubung ini hari Senin berarti waktunya update PARODI SAMUEL MULIA. Weekend ini doi *cie…doi…akrab bener bu’…* menulis tentang capcai…alias capcus…atau dalam bahasa normalnya adalah cape, yang kalo versi panjangnya jadi C spasi D alias Cape Dweeehhh…

Hayo…..pada ngaku….. berapa banyak dari kita yang suka ngomong  “duh, bo’…masa gitu aja ga ngerti?” atau “hari gini ga punya fesbuk. Kemana aja cin ??” atau “gaptek banget sih, masa posting di blog aja ngga bisa ?” Hup….saya langsung ngacung, daripada sok-sok jaim, sudah kagok juga berasa ditampar ama SM alias Samuel Mulia pas baca parodi dia kali ini. Hm, entah sudah berapa kali saya mengucapkan kalimat-kalimat serupa pada orang lain, baik itu dengan maksud becanda ataupun serius sambil menggerundel dalam hati. Saya lupa kalau saya juga awalnya sama. Saya lupa kalau saya juga dulu..duluuuu banget, tidak tahu apa itu facebook, tidak tahu bagaimana caranya nge(go)blog. Saya  lupa kalau saya juga tidak otomatis pandai dan bisa beradaptasi dengan semua kemajuan teknologi itu. Semuanya butuh proses belajar dan beradaptasi.

Tapi itu dulu…dulu kok. Cuma saya terpikir dan bertanya pada diri sendiri, kenapa malah kata itu yang terlontar pertama kali yah dari mulut saya -yang kadang lebih cepat daripada otak saya mikir- bukannya menawarkan bantuan ke kawan yang sedang kebingungan itu ? Toh, ujung-ujungnya saya juga ikut ngulik bareng si kawan. Saya jadi ingat kata salah satu kawan yang sempat menjadi korban kekejaman mulut saya yang suka sembarangan ini,

congor yang suka sembarangan itu

congor yang suka sembarangan itu

katanya “Aku bukannya gaptek. Aku pada dasarnya memang tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu. well, call me lame. Tapi memang begitulah aku. Aku sekarang baru mau belajar karena aku butuh, dan kalau memang dalam prosesnya nanti aku menjadi tertarik, itu hal yang berbeda lagi”. Bener juga sih, memang hal seperti itu juga ada hubungannya dengan ketertarikan juga. Yang repot kalau si kawan sudah tertarik dan makin bertanya ke saya sementara pengetahuan saya masih segitu-gitu aja. Yang ada gantian si kawan yang bilang “cape deh….”

Saya langsung menggarisbawahi poin no. 3 dari kilas parodi SM yang saya kutip berikut ini :

3. Anda tahu Anda hanya punya satu tujuan hidup di dunia ini, yaitu untuk melayani dalam kebenaran? Hidup itu jauh lebih nyaman. Memberi itu katanya jauh lebih nikmat daripada menerima. Dan kalau Anda memberi, Anda akan diberi. Katanya. Jadi, tak perlu minta. Ini berlaku untuk semua orang. Yaa… anak kandung, petugas bea cukai, pajak, anggota DPR, anak pertama, anak tiri, pembantu, polisi, direksi dan sebagainya.

Yup, betul banget. Itu adalah alasan yang paling tepat. Melayani dalam kebenaran dengan kata lain mengarahkan apapun yang kita lakukan (dalam hal ini yang kita lakukan itu baik yah bo’..) untuk beribadah. Kalau beribadah, intinya adalah memberi. Tidak berharap untuk dibalas. Kalaupun suatu saat berbalas, yah bersyukur saja. Kita tidak pernah tahu, kan, ada apa di depan kita nantinya.

Udah ah, Nampak TS deh saya…*TS:Terlalu Serius*

PARODI HARIAN SAMUEL MULIA : CERMIN

Morning, everybody !!!! Udah Senin lagi, dan huh…mata masih belum totally kebuka…padahal sampai jam 10 ini, otak saya sudah distimulus dengan hampir dua gelas caffeine (jangan2 efeknya emang belum sampe otak, atau otak saya sudah terlalu bebal dengannya ?) Sambil memulihkan kesadaran, saya teringat parody harian SaMuel Mulia yang juga dimuat secara online di sebuah website setiap minggu. Langsung saja saya ketikkan alamat website tersebut , dan saya mulai membaca. Tulisan kali ini judulnya adalah CERMIN.  Tulisannya seperti biasa ringan, catchy dan berhasil membuat saya tersenyum-senyum sendiri.

SM hanya ingin mengingatkan (mudah2an saya tidak sok tahu salah, bisa2 diprotes sama empunya tulisan 😀 ) bahwa menghargai dan menghormati tubuh dan jiwa sendiri tidak hanya dengan menerima kondisi tubuh apa adanya, tapi juga tentang melakukan sesuatu dalam rangka menghormati dan menghargai tubuh kita. Contohnya saya, kemarin saya sibuk berkeluh kesah di depan cermin sambil memandang wajah saya sendiri yang apa adanya ini (saya menghormati wajah saya sendiri lho…! Hehehehe). Jerawat tiba-tiba kok betah banget nongkrong di jidat saya. Kemarin-kemarin kayanya malas membersihkan muka sebelum tidur juga, jerawat tidak sampai separah ini. Tiba-tiba kepala saya digetok oleh yang menciptakan wajah ini…”justru itu, udah gw kasih muka yang tidak bermasalah, bukannya dijaga, malah lo cuekin aja, udah berapa lama muka lo tidak terbasuh dengan AIR 5 kali sehari ?”

Jderrrrrrrr….kaya di sinetron-sinetron dangdut yang lagi sering diputar di sebuah stasiun tv swasta, tiba-tiba ada petir dan kilat yang menyambar-nyambar. Hehehehehe…lebay ah… tapi setelah itu, kembali saya bertanya pada sang cermin “min…min…menurut lo, gw nih cantik ga sih ?” dan apa jawab sang cermin : “lo tanya aja sama hati nurani lo sendiri, itulah cermin lo yang sebenarnya, karena dia yang tidak pernah bohong, mo  lo pake baju hitam-hitam kaya orang lagi ke pemakaman, mo muka lo didempul pake foundation setebal aspal, tetep aja hati nurani lo akan bilang, lemak lo menggelambir dimana-mana, wajah lo jerawatan…. Toh menipu dengan menutupi kekurangan itu a.k.a pake topeng bukannya menyelesaikan masalah. Yang namanya menyelesaikan masalah tuh, kalau lo udah “take the action” dengan mulai berolahraga, rajin “membersihkan muka”, dan makan yang benar dan bukan hanya makan yang enak saja.

Hm………bercermin lagi ah… si jerawat sudah menghilang belum yah ??

Temans….sudah pada ber- CERMIN belum ???

acnegambarnya minjem dari sini

Parodi Harian Samuel Mulia Minggu Ini : Asmaradana

Sudah hari Senin lagi. Saya telat ke kantor….hujan. Iya, maaf… kali ini saya mengkambinghitamkan hujan untuk menutupi kemalasan saya bangun pagi di tengah udara dingin setelah hujan semalam. Enaknya sih berkemul sambil meneruskan mimpi (?) semalam, tapi apa boleh buat, teringat tugas di kantor yang baru saya selesaikan setengahnya membuat saya terburu-buru bangun dan segera berangkat ke kantor.

Hm, anyway, karena Minggu kemarin saya tidak ingat sempat membaca parodi harian Samuel Mulia , siang ini (setelah menyelesaikan pekerjaan kantor dan lunch tentunya) mulailah saya menelusuri link ini untuk membacanya. Judulnya : Asmaradana. Kurang  lebih isinya adalah tentang mengelola hubungan dengan seseorang selayaknya seperti mengelola keuangan. Hm… something to ponder about this, apakah mengelola keuangan dengan baik, berarti kita (kita ? elo aja kali, gw ngga…..ok, sorry, hehehehe…OOT yah) juga bisa mengelola hubungan dengan seseorang dengan baik ? Sambil masih memikirkan mengenai pertanyaan itu (mungkin akan saya simpan dulu pertanyaan ini) saya lanjutkan membaca artikel itu, dan ada kalimat yang seperti ini:

Saya pernah dalam kondisi tak punya uang. Mengapa itu terjadi? Karena saya tak pernah memiliki keinginan berinvestasi jangka panjang. Malah senantiasa menghamburkan uang. Menjadi royal adalah kekeliruan, royal itu membuang uang untuk hal tak berguna. Tak bedanya dengan perselingkuhan. Membuang cinta di tempat yang keliru. Maka, karena royal, saya tak punya uang. Sebab tak punya uang, apa yang mau saya investasikan?

Hm, saya coba untuk perlahan mencernanya di dalam otak saya : berarti perselingkuhan adalah menghamburkan atau membuang cinta untuk hal yang tak berguna dan perselingkuhan adalah kekeliruan. Anyways, berbicara soal perselingkuhan pastinya tidak akan pernah ada habisnya. Dan bisa dipastikan perempuan akan menjadi golongan mayoritas yang menentang perselingkuhan itu (KATAKAN TIDAK PADA SELINGKUH…halah….lebay rasanya). Tapi dari tulisan itu saya jadi berpikir, kok rasanya ada yang timpang yah ? Kenapa yang dibicarakan di sini hanya pihak yang berselingkuh ? Bagaimana dengan yang diselingkuhi dan yang menjadi selingkuhan ? Bukannya mereka juga sama-sama ada investasi di dalam hubungan itu ? Yang menjadi selingkuhan sudah menginvestasikan rasa (?) ke dalam hubungan terlarang tersebut makanya hubungan tersebut tetap berlanjut sedangkan sebagai pihak yang diselingkuhi, mungkin dia sudah berinvestasi pada hal yang paling bernilai yaitu hubungan itu sendiri, tapi hasil yang diperoleh malah kebohongan. Apakah ini termasuk resiko yang harus ditanggung dengan mengatasnamakan alasan bahwa yang namanya investasi, juga tidak terlepas dari resiko yang harus ditanggung, bahwa hasilnya tidak melulu seperti yang diharapkan ? Lantas, kalau sudah begini siapa yang diuntungkan ? Yang berselingkuh, selingkuhan atau yang diselingkuhi ?

hatinya-digembok-aja-mas

(mas SM, pinjem gambarnya yah)

Halah…halah….bicara perselingkuhan itu memang tidak bisa dilihat secara hitam-putih saja. Yah…warna abu-abu mungkin, atau bahkan merah dan biru. Hihihihiihi….hayo…hayo…..yang mau investasi…mo investasi materi dan moril….kata Sm, modalnya perlu kuat iman. *nyengir mode-on*

Samuel Mulia Pt (2) : Susah Senang

While reading on another Samuel Mulia’s parody published on Kompas, 7 Dec 08, I was astonished with the latest paragraph. Let me quote it :

Ada SMS yang masuk dari teman saya dan begini bunyinya, Mengapa Tuhan menciptakan ruang di antara jari-jari kita? Karena Ia ingin mengisi ruang yang kosong itu dengan tangan-Nya sehingga kita tidak merasa sendirian dalam keadaan apa pun.


For the umpteenth time, SM writes something that slaps me right on to my face…. And the paragraph above really choked me up,… I read ’em over and over,………one question popped on my mind “how far did I go and leave Him ?” I feel lonely because I’m the one who walked away…I didn’t let Him held me and healed my grief.

Wow….what an enlighten for today……….!