KITA SAMA-SAMA SUKA HUJAN

“Kita sama-sama suka hujan”, sahutmu tiba-tiba.

“Sok tau, aku tidak pernah bilang aku suka hujan”, tukasku pelan tapi tajam.

“Baiklah, aku perbaiki pernyataanku barusan. Kita sama-sama butuh hujan”, kali ini kamu melengkungkan senyum, sedikit saja, tapi aku tahu kamu bermaksud meledekku.

Kemudian sepi, tidak ada perbincangan selanjutnya. Aku, kamu, hanya terdiam berdua, memandangi jejak hujan yang masih tersisa, menetes sebutir demi sebutir dari ujung atap.

“Sudah menangisnya ?” sahutmu, mengagetkan lamunanku.

“… maksudmu ?” tanyaku dengan alis terangkat sebelah. Sedikit kulirik jendela di depanku, mengecek pantulanku kalau-kalau memang ada jejak yang tertinggal. Sia-sia, embun yang menempel sama sekali tidak memberiku kesempatan. Sedangkan kamu, tetap tersenyum, kali ini simpatik, mengulurkan kotak tissue. “Hujan ini memang bangsat. Tangannya selalu terbuka lebar-lebar, kemarilah, katanya. Menangislah dipelukku,” lanjutmu sembari menyesap kopimu yang baru saja tiba.

“Buatku itu semacam mantra yang menyihir. Tiba-tiba saja aku sudah terbenam di dalamnya, dihujam tetesnya, dengan cara yang sederhana, seperti pelukan.” Balasku, entah karena hujan atau karena orang baru ini memang juga pandai menghipnotis.

Tiba-tiba saja kami bertukar cerita, sesekali ditimpali gurauan. Tak ada sungkan dan malu sedikitpun. Sampai kemudian kami masing-masing pulang, membawa cangkir yang telah kosong.

hujan-jendela-compressor

 

 

Lepaskan, Dengarkan, Biaskan yang membisu

Lepaskan, Dengarkan, Biaskan yang membiru

 

*Terinspirasi hujan dan Banda Neira

MASIHKAH SUKA HUJAN ?

Tragedi Situ Gintung sedang sangat menyita perhatian orang se-Indonesia Raya, mulai dari yang sekedar mengikuti beritanya, terjun langsung menjadi relawan, sampai yang menjadikan kesusahan orang lain ini sebagai tontonan (haduh, nggak banget deh, di teve kemarin, saya sempat lihat bapak2 diwawancara, dia bilang gini : “iya saya datang ke sini mo liat danaunya, sekalian bawa anak2 wisata”…YA OLOH, PAK……itu orang lagi kesusahan, bukannya ditolongin, napa jadi di tontonin ???? danaunya mah udah kaga ada apa2an, pak….)haduh. bahkan sudah tidak diragukan lagi, bloggers pasti udah rame-rame posting tentang tragedi ini diblog-nya masing-masing. Nah, kalau begitu, saya tidak pengen ikut-ikutan sama yang lain. Halah….jadi maunya apa  ? (siap2 dikaplok massa…)kaplok.  Sabar…sabar sodar-sodara….

Jadi begini maksud saya, di postingan yang ini, saya bilang kan saya suka hujan, karena hujan dengan pesonanya (cieeeee….) selalu berhasil menginspirasi saya. Nah, saya jadi kepikiran bagaimana dengan masyarakat korban Situ Gintung ? Apakah karena tragedi ini mereka bisa jadi membenci hujan ? atau trauma dengan hujan ? apakah suara derasnya hujan akan mengingatkan mereka pada suara gemuruh air bah yang membuat mereka jadi kehilangan segalanya ?

fiuh…..saya tidak akan pura-pura bisa merasakan apa yang para korban Situ Gintung rasakan…. cuman bisa turut berduka cita… i wish i could do something for them.

HUJAN

Habis baca postingan jeng satu ini, jadi pengen nulis ini :

Aku suka gerimisnya hujan

Menetes setitik demi setitik

Mengalir pelan bersama bulir bening

Dari mata


Aku suka derasnya hujan

Bising suaranya

Menghantarkan teriakan

Dari hati


Aku suka petir dan guruh

Kilatan cahayanya

Seperti kembang api

meletup-letup dari dalam jiwa

its-raining

gambarnya ambil di sini