AKU, KAMU, (KITA)

Sekedar berada di sini
Di sampingmu
Meresapi sepi

Sekedar berada di sini
Di sampingmu
Sebentar lagi

Aku
Kamu
Berulang kueja, berharap ada rangkaian aksara darinya yang bisa kueja menjadi kita.
Berharap kita tidak sekedar kemewahan yang hanya terjangkau oleh mimpi.

Aku
Kamu
Berulang kurapal, serupa mantra yang kiranya bisa meruntuhkan tembok dingin yang berdiri angkuh di antara aku dan kamu.

Kita
Adalah kemewahan yang belum bisa kujangkau selama hanya ada aku dan kamu.

RASA ANONIM

Karena beberapa hal sebaiknya dibiarkan tak terungkap, maka aku memilih diam dan membiarkan rasa itu tak bernama. Aku tahu rasa itu terlalu liar untuk dibiarkan berkembang dan berlompatan kesana-kemari sesukanya. Ada dinding yang akan berderak karena tubrukan yang ditimbulkannya walaupun tak bisa dipungkiri ada kekaguman akan percikan yang ditimbulkan setiap kali rasa itu berlompatan kesana-kemari, menubruk tanpa kendali.

HATI – si produsen rasa yang tidak seharusnya diberi nama itu – memang tidak dapat ditebak. Ketika aku melonggarkan sedikit saja penjagaan atasnya, absen beberapa waktu saja untuk mendidiknya, dia berkhianat dan membuatku tersentak.

“Apakah ini rasa….. hmm…..?”

“bukan…. pasti bukan itu namanya!!!”

Karena RASA itu memang tidak seharusnya diberi nama.

SEKEDAR CORETAN YANG ENTAH

Garis bibir sedikit tertarik.

Senyum tersungging.

Tipis saja

Entah merayakan apa.

 

Tidak selayaknya dirayakan, tapi setidaknya cukup layak untuk dinikmati.

Seperti menikmati udara segar setelah seharian berkutat dengan kepengapan dan kepenatan.

Rasanya menyegarkan.

Ya, cuma butuh penyegaran, tidak lebih.

Mendidik hati membuatnya mampu mengontrol monster yang terkadang terbangun dari tidur panjangnya di dalam sana.

 

OMIDOG…

Hohoho, lama juga saya tidak mengisi kulkas ini yah. Ok, sebagai bahan ngeles, lagi-lagi saya mengatasnamakan kesibukan sebagai biang kerok dari kemalasan saya. Hehehe, namanya juga mo mudik, kerjaan harus diberesin biar liburannya tenang. Anyway, beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 5 September kemaren, idola saya yang ganteng itu ber-ulang tahun yang ke-62. Ngucapin dulu ah :  SELAMAT ULANG TAHUN KE-62, BAPAK, Peluknya nyusul, besok aku pulang…!!!

Continue reading

I KISSED A GIRL AND I LIKE IT

Note : sebenarnya ini postingan lama – waktu saya masih males blogwalking – sekarang saya repost lagi, mungkin ada yang masih berminat baca ?

TAK BISA MEMILIHMU

 

Hmh….ini rokok terakhir, pikirku sambil menyulut rokok yang terselip di bibirku.  Denyutan perlahan di pelipis membuatku meringis menahan sakit.

Continue reading

22 JUNI 2009

54 tahun sudah umurnya… helaian rambut berwarna kelabu pun sudah mulai tumbuh di kepala yang senantiasa tertutup oleh kerudungnya. Tapi dia tetap cantik, tetap enerjik, dan pastinya tetap setia mendampingi suami tercinta, pria gagah, idolaku, selama 29 tahun. Keduanya tetap bergandengan tangan, walaupun tak dipungkiri sampai saat ini masih ada saja perbedaan yang mengundang debat di antara keduanya. Tapi mereka tak pernah beranjak dari tempatnya, genggaman itu tak pernah mereka lepaskan.

Mamak…

Selamat ulang tahun….

Semoga tetap sehat, tetap cantik

Bahagia selalu melingkupi hidupmu

Bapak dan Mamak

Selamat Ulang Tahun Pernikahan

Semoga tetap awet

Terus saling mencintai

Dan jadi contoh buat putra dan putrimu

Buat menantumu…

Dan buat cucu-cucumu…

Amin….

Luv you both, Mama, Bapak….

Big hugs and much kisses from your  daughter.

MAMAK DAN BAPAK

MAMAK DAN BAPAK

FUR MADLY IN LOVE

“Nah, itu dia…” sorakku tertahan. Perlahan aku menghampirinya…hm, tidak, mungkin tidak sedekat itu.  Aku tak ingin merusak moodnya hari ini. Akhirnya kuurungkan niatku untuk menghampirinya. Aku hanya ingin memandangnya dari kejauhan. Aku ingin menikmati setiap lengkungan senyum yang tergores di wajahnya. Senyum yang sejak pertama aku lihat langsung membuatku jatuh hati. Senyum yang dengan keajaibannya selalu membuatku semangat untuk menjalani hari dengan harapan keesokan harinya aku akan melihat lengkungan senyum yang sama dari dirinya.

Kukibaskan ekorku, yang menurut para pejantan membuatku terlihat sexy di mata mereka.  Bulu-buluku yang lebat dan berwarna abu-abu, mataku yang berwarna biru gelap, berhasil membuat para pejantan berlomba-lomba untuk mendekatiku. Mereka tak henti-hentinya mengeong menggodaku, berusaha merebut perhatianku. Bahkan tak jarang di antara mereka saling bertengkar, berebut untuk memilikiku. Tak sedikit pun kuambil perduli. Buatku, hanya ada satu pejantan yang sudah mengisi hatiku… dia, majikanku, manusia dengan lengkungan senyum yang senantiasa tergores di wajahnya. Walaupun aku tahu, senyuman itu bukanlah untukku si kucing Persia berbulu abu-abu, tapi dia, perempuan, sang nyonya rumah, pendamping pejantan idamanku. Eh, tiba-tiba dia menggendongku, kalian tahu rasanya seperti apa ? Dunia seperti berputar sangat kencang seperti degup jantungku. Tak henti-hentinya aku mengeong gembira.

“Bun, si Cherish mo dibawa sekarang aja ?” tanya pejantanku, sementara aku sambil mengeong – dengan nada se-sexy mungkin – mengusap-ngusapkan kepalaku dan buluku yang lembut ke dadanya.

“Iya, Yah, dibawa aja. Kita berangkat aja sekarang, yuk.”

Sepanjang perjalanan, tak hentinya aku memandangi pejantanku. Ah mungkin aku akan seterusnya menyebutnya pejantanku…lebih manis kedengarannya. Ternyata, mereka pergi ke sebuah rumah yang cukup besar. Rumah siapa yah ? Biasanya mereka membawaku ke salon, kalau tidak, jalan-jalan ke  mal. Mereka kemudian asyik mengobrol dengan penghuni rumah itu, perempuan cantik, sama cantiknya dengan perempuan majikanku, hanya terlihat lebih tua. Cukup lama mereka menghabiskan waktu di rumah itu, sampai kemudian mereka pamit. Tapi…hey…kenapa mereka tidak membawaku ikut pulang bersama mereka ? hey…hey….aku berlari-lari mengejar mereka sambil mengeong-ngeong. Tak biasanya mereka melakukan hal ini. Ada apa ini ?

“ Pusss……kamu tinggal di sini dulu yah sementara. Mama…aku titip Cherish yah..” kemudian dia menyerahkanku ke pelukan perempuan (cantik) tua itu. Aku hanya bisa meronta-ronta di pelukan perempuan itu….raunganku makin kencang. Aku tidak mau disini. Aku mau ikut pulang bersama pejantanku. Aku masih ingin melihat goresan senyumnya setiap hari. Karena lelah, aku akhirnya terduduk lemas, sambil memandangi pejantanku dari balik jendela….pejantanku…..kapan aku bisa melihat goresan senyummu lagi ?

Seminggu sebelumnya :

“Ayah, kata dokter, umur kandunganku kan masih sangat muda, untuk menghindari resiko tokso, kayaknya si Cherish kita ungsikan dulu deh di rumah mama. Lagipula aku juga tidak terlalu khawatir kalau dititipkan disana, Mama kan juga punya peliharaan Persia satu lagi”

“Ya sudah, nanti aku telpon mama deh, minta persetujuan dia dulu….”

persian-cat

————————————– the end ———————————-

Jakarta, 210609

Oooooonana cafe, 21.00 p.m

Note :  Postingan ini sekaligus untuk membayar utang PR dari ibu guru batak narsis yang ngasih PR membuat tulisan dengan keyword sexy, semoga ngga maksa sih.