AKU, KAMU, (KITA)

Sekedar berada di sini
Di sampingmu
Meresapi sepi

Sekedar berada di sini
Di sampingmu
Sebentar lagi

Aku
Kamu
Berulang kueja, berharap ada rangkaian aksara darinya yang bisa kueja menjadi kita.
Berharap kita tidak sekedar kemewahan yang hanya terjangkau oleh mimpi.

Aku
Kamu
Berulang kurapal, serupa mantra yang kiranya bisa meruntuhkan tembok dingin yang berdiri angkuh di antara aku dan kamu.

Kita
Adalah kemewahan yang belum bisa kujangkau selama hanya ada aku dan kamu.

SSSTTTT….

 

kalau ada bening yang harus disembunyikan
sembunyikan semua di balik topeng
birumu
merahmu

kalau ada luka yang harus ditutup
balut dengan senyummu
birumu
merahmu

lari sekuatmu
sembunyi sebisamu
sampai sesak
sampai tak bisa bernafas

Sssst….
Ada Dia yang tahu….
Sssst….
Ada Dia yang lihat…
Ssst…

gothic9

 

SHARING IS CARING

Image

 

Akhir minggu kemarin, media sosial dan berita masih riuh dengan kehebohan yang dibuat si ABG alay, yang katanya namanya Dinda. Pastinya reaksi saya pertamakali adalah kaget dan spontan memaki ketika membaca screenshoot akun “path” nya di sebuah channel berita. Karena masih penasaran, saya masih sempatkan browsing mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi sampai si Dinda ini sebegitu kesalnya dengan ibu-ibu hamil yang katanya “menyusahkan orang lain karena meminta dispensasi untuk dapat tempat duduk sementara orang lain itu sudah rela bangun subuh demi untuk mendapatkan tempat duduk di kereta”. Katanya, masih dari screenshoot yang saya dapat di channel berita, kakinya juga pincang makanya menurut si Dinda ini juga tidak bisa berdiri lama-lama. 

Saya sih bukan mau membicarakan si Dinda ini secara personal, well-kenal-saja-nggak, walaupun saya sendiri rada nggak terima, karena pernyataan Dinda ini memberi kesan kalau ibu hamil itu pemalas dan bisanya cuma menyusahkan orang lain. Saya nggak perlu membela memberikan pembelaan sebagai ibu yang pernah hamil dan merasakan semua kesukaan dan sedikit “kesusahan” yang mengiringinya karena toh tidak perlu “sekedar empati” tapi logika waras manusia juga cukup bisa mengerti apa yang dialami oleh ibu hamil.  

Yang membuat saya tidak terlalu terkejut dengan kejadian Dinda si alay commuter ini adalah karena sebenarnya di sekitar kita mungkin masih banyak Dinda-Dinda lainnya, cuma mereka lebih memilih untuk menggerutu dalam hati, tidak sefrontal dan sebodoh Dinda. Saya jadi kepikiran, Jakarta sudah separah itu yah ? Untuk pertolongan kecil yang kelihatannya sepele dan tidak membutuhkan effort besar saja, orang bisa sebegitu tidak rela mengulurkan tangan. Sudah sebegitu tumpulkah rasa empati manusia Jakarta ? Sudah tidak terasa kah “heart warming” nya kita ketika melihat orang memberikan senyum tulus dan ucapan terimakasih untuk hal-hal kecil yang dilakukan orang terhadap kita sehingga kita menganggap hal tersebut sepele dan tidak berarti ? Jakarta masih bagian dari Indonesia kan ? Indonesia yang katanya memegang adat ketimuran, yang katanya ramah bahkan terhadap orang asing sekalipun ? 

Kejadian itu sempat membuat saya khawatir, apakah jumlah orang baik di Jakarta ini sudah makin sedikit. Bahwa mencari orang tulus sudah sedemikian sulitnya di kolong langit ibukota ini, ketika semua dihargai dengan nominal, dengan materi. Untuk apa rela memberi kursi kepada penumpang lain kalau memang sama-sama bayar, mungkin begitu kurang lebihnya yang ada di benak orang-orang seperti ini. 

Tapi kejadian ini juga membuat saya sadar, bahwa tugas saya dan juga orang tua di Jakarta dan di mana pun untuk mendidik dan membekali anak-anak kita dengan budi pekerti yang baik, mulai dari rumah, mulai dengan hal yang kecil, “tolong” dan “terima kasih” misalnya. Sepele ? Kelihatannya mungkin sepele, tapi efeknya dalam kehidupan sehari-hari sangat besar. Dari situ kita bisa belajar soal empati, soal kasih sayang, soal peduli.      

Ah, semoga kekhawatiran saya tidak terbukti, bahwa masih banyak orang di luar sana yang belum tergerus rasa kemanusiaannya dan belum tumpul rasa empatinya. 

 

Note : baru saja mengalami bahwa berbagi itu tidak sulit, walaupun hanya selembar tissue basah untuk bayi di ruang ganti bayi. 

“Even the smallest act of caring for another person is like a drop of water.It will make ripples throughout the pond.” -jessy&brian matteo-

 

COMEBACK!!!

Entah sudah berapa kali saya melontarkan kalimat “time really flies”.  Media sosial sebagai ajang berbagi membuat saya teringat hal-hal penting yang terjadi dengan diri saya, keluarga besar dan kecil saya bahkan lingkaran pertemanan saya. Mulai dari saya hamil, pernikahan teman sampai kemudian sekarang sedang hamil, cerita adik dan ponakan2 saya, sampai ulang tahun pernikahan teman yang pertama. Semua terasa cepat berjalan. Entah semuanya cepat berlalu atau memang saya-nya yang masih berkutat di situ-situ saja. Hehehe, sepertinya sih yang terakhir,yah. Tidak terasa kalender sudah harus diganti lagi. Tahun 2013 sudah menginjak bulan Desember, dan gadis kecil saya yang memang belum pernah saya ceritakan di sini sebentar lagi sudah 1 tahun. Ya, SATU TAHUN. Masih sangat jelas di ingatan saya, 04 Januari 2013, setelah 24 jam observasi, diinfus penguat paru-paru untuk si jabang bayi dan penahan kontraksi, dokter memutuskan saya sudah boleh diinduksi, dan tarraaaa, 4jam kemudian, kontraksi sudah makin menjadi-jadi, saya pun ditemani si bapak hedin sang suami siaga, berjuang di ruang bersalin. 04 Januari 2013 jam 21:00, BTARI AZKA ZAKIYA pun lahir ke dunia. Wah, this is a kind of experience that I won’t change with anything in this world. I am officially a mom!!!  

And so the story goes. Sampai hari ini, melihat perkembangannya, rasanya tidak ada perjuangan yang sia-sia. Jungkir balik selama 6 bulan untuk memberinya ASI sampai akhirnya saya menyerah di bulan ke-8 karena my BUMBLE BEE terserang “nipple confusion” dan memilih bersahabat dengan nipple buatan alias DOT dan segala macam kehebohan yang harus saya alami sebagai “newbie in motherhood” membuat saya cukup bersyukur dengan apa yang ada sekarang.

Tahun 2013 adalah tahun penuh berkah dan saya patut bersyukur atas semuanya.

Lantas,  mau apa saya di tahun 2014 ? Hm… mari kita liat,

1. (Mungkin) saya mau cari kerjaan yang baru. Sepertinya saya sudah terlalu lama di comfort zone ini. si Bee sudah mau setahun, mungkin saya sudah bisa sedikit santai . Yang penting, pertimbangan pertama saya menerima (kalau ada tawaran pekerjaan baru), mudah-mudahan tidak menyita waktu saya bersama Bee. Abis, Bee lagi lucu-lucunya sekarang. Siapa yang bisa menolak senyuman seperti ini ?

BUMBLE BEE

BUMBLE BEE

 

 

 

 

 

 

 

 

2. (Mungkin) kalau poin no. 1 belum terwujud sampai tengah tahun, saya  akan nekat saja berhenti kerja, pengen liburan mungkin, terus nyoba jualan aja gitu yah ? Hahahaha, random banget yah….

3. (Mungkin) terkait dengan no. 3, saya mau nyari tau lebih banyak soal Homeschooling, jadi kalau memang sudah waktunya dan memang sudah mantap menetapkan hati untuk meng-HS-kan si Bee, saya sudah siap. Perlu banyak belajar dan cari tau dari si ibu guru ini nih. Hahaha, ini juga random deh… Anak masih piyik juga.

4.  Nah ini dia nih, saya mau nulis lagi, alias nge-post blog lagi. Semoga bisa konsisten, seperti yang saya bilang sama si Lea dan si Isma, saya pengen banget bisa nulis lagi. Bukan buat apa-apa siy, menulis itu buat saya seperti detox. buat buang sampah sama racun di otak dan hati. So, doakan saya!!! 😀

 

Apa pun rencana saya tahun 2014 nanti, yang paling penting pastinya tetap si BEE akan selalu jadi prioritas utama.

Well, kalian sendiri mau apa di tahun 2014 ? any wishes for 2014 ?

 

PS : Sepertinya ini akan jadi postingan saya yang pertama sekaligus terakhir di tahun 2013 yah… *blushing lalu ngumpet*

-NU-

 

HI, MIRACLE….

Sepekan lagi, menurut perhitungan sang ahli.
Katanya trimester pertama akan terlewati dan pada saat itu kamu sudah cukup kuat di dalam sana. Semoga… Harapku dalam hati, tak henti.

 

Lengkungan senyum tak henti terukir setiap kali membayangkan berakhirnya penantian ini.
Tidak ada satupun yang bisa menghalangi.
Tidak pun kelelahan dan sensasi memabukkan yang mengaduk-ngaduk perutku.
Semua dinikmati.

Ajaib…!!!

 

Tak ada lagi jari yang sibuk memainkan gulungan nikotin…
Tak ada lagi kepulan asap cairan berkafein menemani hari-hari….
Tak ada malam-malam panjang bercengkrama dengan siaran televisi tengah malam…
Tak ada keluhan atau rutukan…

 

Ajaib…!!!

Sekarang lemari pendingin hanya berisi susu terpasteurisasi yang dulu membuatku perutku selalu teraduk-aduk.
Sesendok manisnya madu setiap pagi, yang dulu membuat alisku berkerut aneh tiap kali mencecapnya.
Warna-warni buah dan sayur menemani waktu-waktu senggangku.

Ajaib….
Yah…ajaib…

Semua kebiasaan buruk yang dijalani oleh manusia keras kepala sedunia ini, sekejap bisaa berubah.

Tanpa keluhan…

Aku menyerah…

Tanpa Syarat…

Demi Kamu…

Ya… kamu si makhluk ajaib…
penghuni alam rahimku selama sebelas minggu ini.

-Meja Kerja-
19 July 2012