RINDU DALAM SECANGKIR KOPI

black-coffee-butterfly-1920x1080

Merindumu seperti menyesap kopi.

Hitam dan tanpa gula.

Menyesapnya perlahan menyadarkanku seketika dari mimpi.

Pahit.

Merindumu dan tak berbalas.

Begitu seterusnya sampai kopiku tandas.

Tak bersisa.

Tertinggal rindu yang tak selesai.

Bukan kamu yang tak nyata

Tapi rasa yang tak kunjung bersua.

-SELAMAT MENUNAIKAN RINDU-
Advertisements

MENGANDALKAN INTUISI

Judul tulisan ini kelihatannya berat dan terlalu serius. Ya, memang betul adanya, mempercayakan penjagaan dan pengasuhan anak pada orang lain memang hal yang berat dan serius. Terutama untuk ibu-ibu pekerja seperti saya, lebih spesifik lagi ibu-ibu pekerja yang tidak bisa dengan mudah menaruh kepercayaan pada orang lain berlabel Asisten Rumah Tangga (“ART”) yang beberapa tahun ke belakang  berita mengenai tindak tanduknya yang “aneh-aneh” membuat ibu-ibu pekerja seperti saya – kalau saja punya pilihan – rasanya mau resign dari pekerjaan saja.
Kurang lebih setahun yang lalu, saya dan suami memutuskan untuk mempercayakan penjagaan dan pengasuhan anak saya, Btari Azka Zakiya (biasa kami panggil Bee )di sebuah tempat penitipan anak (daycare). Keputusan yang dibuat dalam hitungan jam setelah beberapa hari sebelumnya sempat berandai-andai bagaimana kalau Bee kita titipkan di daycare mengingat si ibu pengasuh Bee sudah menunjukkan tanda-tanda tidak betah. Saya bahkan sudah sempat survey ke salah satu daycare yang letaknya di gedung perkantoran tepat di sebelah gedung di mana saya berkantor. Fasilitasnya premium, tapi entah kenapa saya merasa ada yang tidak klop. Mungkinkah pengasuhnya ? Entahlah, saya merasa walaupun fasilitasnya premium tapi tidak terasa rumah. Ada atmosfer yang tidak nyaman menurut naluri keibuan saya (?) Hari itu akhirnya tiba, selepas subuh si ibu pengasuh yang masih kerabat dekat suami saya tiba-tiba minta pulang kampung dengan berbagai macam alasan. Singkat cerita, akhirnya pagi itu, saya, suami dan Bee sudah di jalan dan masih belum memutuskan daycare mana yang kami tuju. Setengah perjalanan saya dan suami berdebat mengenai daycare mana yang akan kami pilih yang mana pertimbangannya ujung-ujungnya adalah mengenai biayanya. Akhirnya kami (tepatnya saya) memilih sebuah daycare yang terletak di dalam sebuah apartment yang saya pun bahkan belum pernah survey langsung ke sana. Saya hanya mengandalkan intuisi saya sambil berharap semoga kali ini intuisi saya tidak berkhianat. Sampai di sana kami langsung disambut oleh pengurus daycare, setelah dijelaskan mengenai segala fasilitas dan besarnya biaya, sampailah di saat yang paling sulit, melepaskan Bee. Sepanjang perjalanan saya sudah sibuk membayangkan reaksi Bee ketika akan kami tinggalkan di daycare  mengingat Bee anak yang sangat sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, jangankan beradaptasi, disapa orang asing saja dia bisa menjerit ketakutan dan berakhir menangis sesengukan di pelukan saya. Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti sama sekali. Bee langsung tenang bermain dengan beberapa anak-anak penghuni daycare dan tidak menangis sama sekali, bahkan saya yang meneteskan airmata ketika dalam perjalanan ke kantor. Ya, saya yang bergaya preman ini memang berhati hello kitty sejak bergelar Ibu. Sampai di kantor, saya langsung menghubungi daycare dan memastikan Bee baik-baik saja. hal itu berlangsung selam seminggu dan saya dibuat terkagum-kagum dengan kemajuan yang dialami Bee sejak dititipkan disana. Akhirnya kami memutuskan bahwa inilah pilihan terbaik untuk Btari, sampai sekarang genap setahun kami mempercayakan Bee kepada ibu-ibu pengasuh di sana. Kenapa saya akhirnya memilih daycare itu padahal saya belum pernah survey ke sana ? Sampai sekarang saya sendiri tidak tahu jawabannya, saya hanya percaya pada intuisi saya. Intuisi saya tidak berkhianat. Ternyata Bee memang cocok di sana, bahkan orang-orang sekitar saya menyadari perubahan positif dari Bee. Bee lebih percaya diri, Bee lebih ceria, yang jelas saya nyaman dan merasa aman mempercayakan Bee kepada ibu-ibu pengasuh di sana.
Bagaimana dengan saya dan suami sendiri ? Kami mulai terbiasa dan akhirnya merasa nyaman, walaupun bisa dibilang perjuangannya jadi berlipat kali karena harus menangani pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan ART. Tapi keutuhan kami sebagai tim diuji di sini. Tanpa diskusi panjang, tiba-tiba saja kami sudah berbagi berbagai macam tugas rumah tangga, mulai dari membereskan cucian sampai dengan urusan membeli makanan. Kami sering sekali membeli makanan dari luar, saya harus mengakui saya belum punya keterampilan yang cukup untuk meramu bahan-bahan makanan menjadi sajian yang nikmat untuk dimakan keluarga kecil saya. Suami sih memang belum pernah mengeluh, tapi saya yakin dompetnya sudah mulai menjerit kesakitan. Hahahahah….
Perjalanan masih panjang, perjuangan belum berhenti sampai di sini tapi paling tidak, saya, suami dan Bee adalah tim yang solid dan mampu menikmati pengalaman ini. Itu kata intuisi saya, dan lagi-lagi, tolong tetap setia ya intuisiku.
BEE'S TRIP

SHARING IS CARING

Image

 

Akhir minggu kemarin, media sosial dan berita masih riuh dengan kehebohan yang dibuat si ABG alay, yang katanya namanya Dinda. Pastinya reaksi saya pertamakali adalah kaget dan spontan memaki ketika membaca screenshoot akun “path” nya di sebuah channel berita. Karena masih penasaran, saya masih sempatkan browsing mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi sampai si Dinda ini sebegitu kesalnya dengan ibu-ibu hamil yang katanya “menyusahkan orang lain karena meminta dispensasi untuk dapat tempat duduk sementara orang lain itu sudah rela bangun subuh demi untuk mendapatkan tempat duduk di kereta”. Katanya, masih dari screenshoot yang saya dapat di channel berita, kakinya juga pincang makanya menurut si Dinda ini juga tidak bisa berdiri lama-lama. 

Saya sih bukan mau membicarakan si Dinda ini secara personal, well-kenal-saja-nggak, walaupun saya sendiri rada nggak terima, karena pernyataan Dinda ini memberi kesan kalau ibu hamil itu pemalas dan bisanya cuma menyusahkan orang lain. Saya nggak perlu membela memberikan pembelaan sebagai ibu yang pernah hamil dan merasakan semua kesukaan dan sedikit “kesusahan” yang mengiringinya karena toh tidak perlu “sekedar empati” tapi logika waras manusia juga cukup bisa mengerti apa yang dialami oleh ibu hamil.  

Yang membuat saya tidak terlalu terkejut dengan kejadian Dinda si alay commuter ini adalah karena sebenarnya di sekitar kita mungkin masih banyak Dinda-Dinda lainnya, cuma mereka lebih memilih untuk menggerutu dalam hati, tidak sefrontal dan sebodoh Dinda. Saya jadi kepikiran, Jakarta sudah separah itu yah ? Untuk pertolongan kecil yang kelihatannya sepele dan tidak membutuhkan effort besar saja, orang bisa sebegitu tidak rela mengulurkan tangan. Sudah sebegitu tumpulkah rasa empati manusia Jakarta ? Sudah tidak terasa kah “heart warming” nya kita ketika melihat orang memberikan senyum tulus dan ucapan terimakasih untuk hal-hal kecil yang dilakukan orang terhadap kita sehingga kita menganggap hal tersebut sepele dan tidak berarti ? Jakarta masih bagian dari Indonesia kan ? Indonesia yang katanya memegang adat ketimuran, yang katanya ramah bahkan terhadap orang asing sekalipun ? 

Kejadian itu sempat membuat saya khawatir, apakah jumlah orang baik di Jakarta ini sudah makin sedikit. Bahwa mencari orang tulus sudah sedemikian sulitnya di kolong langit ibukota ini, ketika semua dihargai dengan nominal, dengan materi. Untuk apa rela memberi kursi kepada penumpang lain kalau memang sama-sama bayar, mungkin begitu kurang lebihnya yang ada di benak orang-orang seperti ini. 

Tapi kejadian ini juga membuat saya sadar, bahwa tugas saya dan juga orang tua di Jakarta dan di mana pun untuk mendidik dan membekali anak-anak kita dengan budi pekerti yang baik, mulai dari rumah, mulai dengan hal yang kecil, “tolong” dan “terima kasih” misalnya. Sepele ? Kelihatannya mungkin sepele, tapi efeknya dalam kehidupan sehari-hari sangat besar. Dari situ kita bisa belajar soal empati, soal kasih sayang, soal peduli.      

Ah, semoga kekhawatiran saya tidak terbukti, bahwa masih banyak orang di luar sana yang belum tergerus rasa kemanusiaannya dan belum tumpul rasa empatinya. 

 

Note : baru saja mengalami bahwa berbagi itu tidak sulit, walaupun hanya selembar tissue basah untuk bayi di ruang ganti bayi. 

“Even the smallest act of caring for another person is like a drop of water.It will make ripples throughout the pond.” -jessy&brian matteo-

 

HI, MIRACLE….

Sepekan lagi, menurut perhitungan sang ahli.
Katanya trimester pertama akan terlewati dan pada saat itu kamu sudah cukup kuat di dalam sana. Semoga… Harapku dalam hati, tak henti.

 

Lengkungan senyum tak henti terukir setiap kali membayangkan berakhirnya penantian ini.
Tidak ada satupun yang bisa menghalangi.
Tidak pun kelelahan dan sensasi memabukkan yang mengaduk-ngaduk perutku.
Semua dinikmati.

Ajaib…!!!

 

Tak ada lagi jari yang sibuk memainkan gulungan nikotin…
Tak ada lagi kepulan asap cairan berkafein menemani hari-hari….
Tak ada malam-malam panjang bercengkrama dengan siaran televisi tengah malam…
Tak ada keluhan atau rutukan…

 

Ajaib…!!!

Sekarang lemari pendingin hanya berisi susu terpasteurisasi yang dulu membuatku perutku selalu teraduk-aduk.
Sesendok manisnya madu setiap pagi, yang dulu membuat alisku berkerut aneh tiap kali mencecapnya.
Warna-warni buah dan sayur menemani waktu-waktu senggangku.

Ajaib….
Yah…ajaib…

Semua kebiasaan buruk yang dijalani oleh manusia keras kepala sedunia ini, sekejap bisaa berubah.

Tanpa keluhan…

Aku menyerah…

Tanpa Syarat…

Demi Kamu…

Ya… kamu si makhluk ajaib…
penghuni alam rahimku selama sebelas minggu ini.

-Meja Kerja-
19 July 2012

 

Hari mendung…


Mungkin rasa melankolis saya sedang muncul ke permukaan, tidak perlu menyalahkan hormon bulanan karena hari ini saya jadi sosok yang menyebalkan.  Just being “me”. Itu saja, tidak lebih.

Hari ini saya lelah.

Lelah menjadi teman. Lelah dengan segala atribut “pertemanan” yang membebani pundak saya.

Telinga saya juga bisa pekak dengan segala keluhan dan rengekan.

Mulut saya juga bisa bisu untuk berceloteh.

Hati saya juga bisa penuh dengan segala rahasia dan cerita yang ditumpahkan.

Menyebalkan bukan ?

Bagus. Karena untuk saat ini, begitulah cara saya untuk menunjukkan bahwa saya hanya ingin menjadi “saya” tanpa embel-embel. Hari ini saya sedang ingin cuti menjadi saya yang sebagai teman.

Saya. Hanya saya. Hanya hari ini.

M.A.Y.A

Pesanmu seperti bermagnet

Menarik mataku untuk membaca

Memaksa jariku untuk membalas

Dan berharap ada pesan selanjutnya

Kalau saja ada dunia lain

Yang bisa membuatmu

Membuatku

Menanggalkan topeng dan ego sejenak

Tapi kamu

dan aku

selamanya

akan selalu

M.A.Y.A.

HAPPY ANNIVERSARY

Saya kalah cepat.
Pada deringan kesekian akhirnya telepon saya dijawab oleh mamak, kali ini suaranya ceria, dilatari suara-suara berisik, sepertinya di rumah sedang ada tamu, eh ini mamak sedang di rumah atau di kelas sih ? Kok suaranya seperti suara ABG-ABG labil yang kecentilan itu ?

“Halo, assalamu alaikum, Mamak…Selamat Ulang Tahun ke 55 tahun dan selamat ulang tahun perkawinan yang ke 30 tahun”
“Terima kasih, nak”
“Ributnya, mak, dimanaki ini ? di rumah atau di sekolah?”
“Di rumah ji. Ini lagi ada anak walinya mamak datang, pada kasih ucapan selamat”
“Waaa…..tauwwa, senangnya mamak”
“Iyo, sudahmi dulu nah, mamak disuru potong kue ini sama anak-anak, nanti ko telpon mamak lagi, nah”
“Iye pale, nanti saya telpon ki lagi”

Klik, saya bengong. Campur aduk perasaannya antara senang dan sedih. Sedih karena untuk kesekian kalinya saya cuma bisa telpon, belum bisa terbang ke Makassar buat menemani dan ngasih ucapan selamat secara langsung. Saya tahu mamak kesepian, karena anak-anaknya sudah dewasa dan sibuk dengan kehidupannya masing-masing –apalagi si sulung yang hanya pulang setahun sekali itu – tapi saya juga senang karena mamak tidak terlalu merasakan kesepiannya karena mamak punya anak-anak didik yang tidak sekedar diajari bagaimana membedah kodok, tapi juga diajari bagaimana bersikap sebagai anak bagi orang tuanya. Saya senang karena saya tahu mamak saya dikelilingi oleh murid-muridnya yang sayang sama beliau. Dan hari ini saya kalah cepat oleh mereka. Mereka datang tepat di hadapan Mamak saya, memberi ucapan selamat. DAMN!!!!

However, saya tetap ingin mengucapkan Happy 55th anniversary, Mamak. Semoga bahagia dan sehat selalu. Love you, Mak.

Dan satu lagi, semoga Mamak dan Bapak juga makin menikmati kebersamaan, berdua-duaan kemana-mana. Ternyata kalau cuma berdua, Mamak dan Bapak malah lebih mesra yah *laporan pandangan mata dari si bungsu yang sebenarnya jarang di rumah karena masih sibuk kuliah buat jadi tukang insinyur*

Happy 30th Wedding Anniversary Mamak dan Bapak, love you both.

Note :
Selamat Hari Jadi Kota Jakarta yang ke – 483, semoga lebih “ramah” bagi para warganya.