(BUKAN) RUMPUT LIAR

Katanya,

Aku seperti rumput liar,

Tempatkan dia di mana saja, tak perlu air melimpah dan tak perlu dipupuk,

Di situ. di tempat itu dan sepanjang waktu dia akan tumbuh dan bertahan hidup.

 

Kalau saja beliau tahu kalau aku tidak setangguh yang beliau kira

Kalau saja beliau bisa mengerti kalau aku tidaklah selalu setabah yang beliau harapkan

Kalau saja masih tersisa sedikit ruang untuk aku menumpang meringkuk sebentar saja

karena aku sedang lelah

karena aku hanya butuh usapan di punggung

karena aku hanya manusia biasa

yang tidak tumbuh begitu saja seperti halnya

rumput liar…

 

 

SEJUMPUT SABAR DALAM SEKOTAK JEDA

Karena mengalah tidak selalu kalah
Ketika badai resah mulai menuai lelah
Karena keakuan hanya dahaga semu
Ketika dipuaskan tanpa jemu

Hanya butuh sekotak jeda…
Ruang untuk menghela napas…
Panjang….
Sejauh jalan yang akan diterabas…

Hanya butuh sejumput sabar
Nutrisi untuk menguatkan hati
Lapang…
Seluas asa untuk bisa saling sinergi

HHHHHH…….

Berada dalam dekapmu

Serasa tak pernah mengenalmu…

Berada dalam pelukmu

Cukup semenit

Untukku yang tak pernah di sisimu


Berada di sana

dengan setitik air bening

yang tak dapat kuingkari

semuanya akibat kegalauan

Kecemasan…

Andai aku benar-benar di sana ……

Menikmati desahan kalbuku

Sebelum semuanya mati

Dan tertutup oleh harga diri kita


Sekedar berada dalam dekapmu

Membelaiku ……. Mengusap air beningku

Yang jatuh karena kehilanganmu

RINDU

*abis baca postingan jeng ibu kita kartini, langsung kepikiran nulis ini*

Rindu….

Deretan aksara yang membeku, mengkristal di sudut hati

Bongkahan rasa yang tertinggal,tertimbun dalam gelap

Seperti apakah rasanya?

Merindu dan dirindu.

Lagi….

Mungkin…hanya hibernasi

Setelah musim berganti,

Rasa itu akan cair kembali…

Hangat kembali…

Menjadi R.I.N.D.U.

kulkas rindu

kulkas rindu (minjem dari http://www.wallpapersweb.com)

MASIHKAH SUKA HUJAN ?

Tragedi Situ Gintung sedang sangat menyita perhatian orang se-Indonesia Raya, mulai dari yang sekedar mengikuti beritanya, terjun langsung menjadi relawan, sampai yang menjadikan kesusahan orang lain ini sebagai tontonan (haduh, nggak banget deh, di teve kemarin, saya sempat lihat bapak2 diwawancara, dia bilang gini : “iya saya datang ke sini mo liat danaunya, sekalian bawa anak2 wisata”…YA OLOH, PAK……itu orang lagi kesusahan, bukannya ditolongin, napa jadi di tontonin ???? danaunya mah udah kaga ada apa2an, pak….)haduh. bahkan sudah tidak diragukan lagi, bloggers pasti udah rame-rame posting tentang tragedi ini diblog-nya masing-masing. Nah, kalau begitu, saya tidak pengen ikut-ikutan sama yang lain. Halah….jadi maunya apa  ? (siap2 dikaplok massa…)kaplok.  Sabar…sabar sodar-sodara….

Jadi begini maksud saya, di postingan yang ini, saya bilang kan saya suka hujan, karena hujan dengan pesonanya (cieeeee….) selalu berhasil menginspirasi saya. Nah, saya jadi kepikiran bagaimana dengan masyarakat korban Situ Gintung ? Apakah karena tragedi ini mereka bisa jadi membenci hujan ? atau trauma dengan hujan ? apakah suara derasnya hujan akan mengingatkan mereka pada suara gemuruh air bah yang membuat mereka jadi kehilangan segalanya ?

fiuh…..saya tidak akan pura-pura bisa merasakan apa yang para korban Situ Gintung rasakan…. cuman bisa turut berduka cita… i wish i could do something for them.

KEPOMPONG SAHABATAN ?

Dulu kita sahabat teman begitu hangat lompat-lompatmengalahkan sinar mentari …

dulu kita sahabat berteman bagai ulat ulat apa kepompong ? , berharap jadi kupu-kupu.

kini kita melangkah berjauh-jauhan tonjok, kau jauhi diriku karena sesuatu.

mungkin ku terlalu bertindak kejauhan, namun itu karena kusayang….

Persahabatan bagai kepompong…ulat apa kepompong ? mengubah ulat menjadi kupu-kupu…

Persahabatan bagai kepompong…ulat apa kepompong ? hal yang tak mudah berubah jadi indah…boncengan-aja-dulu

Persahabatan bagai kepompong…memaklumi teman hadapi perbedaan.

Persahabatan bagai kepompong…

————————————————–

Lagu di atas, dinyanyikan sama SINDENTOSCA, awalnya sih denger lagunya selewat aja, walaupun lagu ini happening banget, bahkan jadi salah satu lagu yang ada di album IDOLA CILIK 2. Tapi belakangan ini, saya merasa lagunya kok nyambung sama keadaan saya sekarang yah ?  kalau pengen tahu apa yang saya maksud di sini, bisa baca postingan saya di sini.  Haduh, jadi PELACUR gini (maksud saya : “pelan2 curhat”…yeee, jangan pada ngeres gitu ah…nohehehehe) . anyway,  baiklah, mari kita lanjutkan pelacuran ini (halah…dikaplok massa blogger kaplok)

Belakangan ini memang saya menjauh, saya yang pergi. ngacir1Pergi, karena saya merasa marah. Marah dan kecewa karena merasa dikhianati, direndahkan. jedug Fiuh…I have to admit, that she made my self esteem crashed down just because she said that I reckoned on her. I keep asking on my self, did I ?? Sebegitu tidak mandirinya kah saya sampai orang lain merasa terbebani oleh saya ?  separah itu kah saya sebagai seorang teman ? Tapi, yah, begitulah, kita tidak bisa membatasi dan mengkotak-kotakkan perasaan orang lain. Mungkin kita hanya bisa menduga-duga di permukaan apa yang dirasakan oleh orang yang kita anggap dekat dengan kita tapi belum tentu itu yang sebenarnya dia rasakan. Saat ini, saya menjauh bukan karena hal di atas lagi, masa memuaskan ego diri sudah lewat, sekarang saya butuh waktu untuk sendiri, phewmenyusun kembali kepercayaan diri yang sempat berantakan, introspeksi diri, mungkin memang saya seburuk itu, tapi saya juga tidak akan bertahan dengan hal yang buruk bukan ? Saya butuh waktu untuk membuktikan sama diri saya (bukan sama siapa-siapa) kalau saya tidak perlu tergantung sama siapapun. Terkadang kita butuh waktu untuk sendiri…supaya bisa lebih fokus, lebih bebas menentukan langkah apa yang selanjutnya musti diambil, kapan dan bagaimana menjalaninya. plis mungkin ketika keadaan mulai membaik, kita bisa bertemu lagi, berpapasan lagi, di persimpangan (halah, nungguin di pengkolan ?), tertawa lagi, ngopi2 bareng lagi… baikan-yuk

fiuh….. okeh, baiklah…PELACURAN ditutup……sliweran

GORESAN HUJAN

Karena hujan yang terus mengguyur sementara isi kepala sedang tidak bisa diajak kompromi, akhirnya yang jadi malah tulisan semacam ini :

Hari ini, jejakmu yang biasanya beriringan dengan jejakku

Menghilang….pupus, tersapu bersama derasnya hujan.

Mungkin kau lelah, muak berjalan beriringan

Kau ingin berjalan selangkah, dua langkah bahkan jauh di depan….

Hingga aku takkan sanggup menjangkau, bahkan hanya bayanganmu sekalipun.

Aku hanya diam memandangi punggungmu, punggungmu yang semakin tegak

Menuju duniamu yang kau bilang indah itu, yang kau bilang aku tidak mungkin ikut di dalamnya.

Aku hanya diam, berbalik perlahan….menjauh

kembik21

HUJAN

Habis baca postingan jeng satu ini, jadi pengen nulis ini :

Aku suka gerimisnya hujan

Menetes setitik demi setitik

Mengalir pelan bersama bulir bening

Dari mata


Aku suka derasnya hujan

Bising suaranya

Menghantarkan teriakan

Dari hati


Aku suka petir dan guruh

Kilatan cahayanya

Seperti kembang api

meletup-letup dari dalam jiwa

its-raining

gambarnya ambil di sini