RINDU DALAM SECANGKIR KOPI

black-coffee-butterfly-1920x1080

Merindumu seperti menyesap kopi.

Hitam dan tanpa gula.

Menyesapnya perlahan menyadarkanku seketika dari mimpi.

Pahit.

Merindumu dan tak berbalas.

Begitu seterusnya sampai kopiku tandas.

Tak bersisa.

Tertinggal rindu yang tak selesai.

Bukan kamu yang tak nyata

Tapi rasa yang tak kunjung bersua.

-SELAMAT MENUNAIKAN RINDU-

MAKA NIKMAT BULAN APRIL MANAKAH YANG AKAN KAMU DUSTAKAN ?

Bulan April ini ada apa aja yah ??

1. 5-9 APRIL 2012 : Ada “getaway travel” dadakan abis ke BALI…. Gimana ga dadakan, kalau pesen tiket dan akomodasi baru seminggu sebelum keberangkatan, sementara tanggal yang saya pilih itu pas banget lagi peak season karena pas “long weekend”. So, harga tiket pun sombong benerrrr, ngajak miskin. Belum lagi insiden salah pesan tanggal kepulangan ke Jakarta oleh si kawan yang saya minta tolongin untuk memesankan tiket. Karenanya begitu tiba di BALI, tidak menyia-nyiakan kesempatan, dan below  can describe what i call HOLIDAY :

THIS IS WHAT I CALL HOLIDAY

CHEERS BABY!!!!

 

HOLY..DAY!!!!

and this is…… HOLY SHIT!!!!!!

HOLY...SHIT!!!!

 Hahahahaha….. tidak perlu banyak cerita dan kata-kata, biar gambar-gambar itu bercerita sendiri…

2.  10 APRIL 2012 00:00 AM : touch down Jakarta dan menerima ucapan selamat bertubi-tubi via telpon, facebook dan twitter. Thanks buat doa-nya yah….. 😀 Walaupun saya sendiri tidak pernah merayakan dan tidak pernah memperlakukan hari lahir saya sendiri sebagai hari yang istimewa, tapi tetap saja ada rasa senang, bahagia dan merasa diperhatikan ketika menerima ucapan-ucapan selamat dari teman-teman dan orang tersayang. Dan untuk pertama kalinya, saya dapat “cuplis” dari kawan, berupa cheesecake yang ada lilin yang harus saya tiup sambil mengucapkan permohonan saya. Thank you yah….

3. Masih 10 APRIL 2012 : Pesan singkat di ponsel saya berbunyi, kebetulan saya berlangganan layanan pesan singkat navigasi dari bank tempat saya biasa menerima upah setiap akhir bulan setelah memburuh selama kurang lebih 25 hari kerja. Dan jeng…jeng…jeng…. angka yang tercantum membuat mata saya melotot dan lupa bernapas saking kagetnya. Hahahahaha, lebay yah…. intinya saya senang….. dan utang tiket serta akomodasi di Bali pun terbayar sudah dari situ.

SO, nikmat di bulan APRIL manakah yang bisa saya dustakan ??

(BUKAN) RUMPUT LIAR

Katanya,

Aku seperti rumput liar,

Tempatkan dia di mana saja, tak perlu air melimpah dan tak perlu dipupuk,

Di situ. di tempat itu dan sepanjang waktu dia akan tumbuh dan bertahan hidup.

 

Kalau saja beliau tahu kalau aku tidak setangguh yang beliau kira

Kalau saja beliau bisa mengerti kalau aku tidaklah selalu setabah yang beliau harapkan

Kalau saja masih tersisa sedikit ruang untuk aku menumpang meringkuk sebentar saja

karena aku sedang lelah

karena aku hanya butuh usapan di punggung

karena aku hanya manusia biasa

yang tidak tumbuh begitu saja seperti halnya

rumput liar…

 

 

POSTING “COME BACK”

Waaaaaaa…..theme baruuuuu ‼ Iya…. Setelah delapan bulan dianggurin, saya bertekad  untuk kembali menulis dan kembali meracau di blog kesayangan saya ini.  Selain theme blog yang baru, ada beberapa hal baru yang mau saya ceritakan di sini. Well, sebenarnya sih udah nggak baru-baru amat, sudah tujuh bulan aja gitu. Hah? Udah mo nujuh bulanan?? Eits….. bukan itu kok, walopun penampakan saya sekarang buncit sangat, saya harus sampaikan bahwa saya belum hamil. Hehehehe, tujuh bulan maksud saya di sini adalah hal baru yang pertama saya alami yaitu :

1. NO LONGER  SINGLE

Iyes, saya sudah tujuh bulan sudah tidak lagi single alias sudah jadi istri si bibib semenjak pak penghulu ngomong “SAH” di omah sendok itu.  Bagaimana  rasanya abis menikah? Hm… Kalau ada  yang bilang semua kebiasaan yang tadinya belum ketahuan akan terbongkar setelah menikah, itu saya rasakan juga. Saya baru tahu kalau si bibib ini punya kebiasaan “gigi gemerutuk” ketika tidur dan hal itu bikin saya geli sendiri ketika pertama kali tahu. Tadinya saya pikir saya mendengar suara gigi gemerutuk saya sendiri. Ternyata oh ternyata….. sodara-sodara…. Saya juga punya kebiasaan yang sama, dan ada kalanya kami berdua jadi paduan gigi gemerutuk kalau pas kumatnya bersamaan. Masih banyak hal-hal lain yang mungkin pasangan lain juga merasakan, kaya odol yang dipencet selalu dari tengah, channel tv yang selalu dipndah-pindahin ga jelas mau nonton acara apa, belum lagi kalau pura-pura budeg kalau lagi nonton bola (hiiih, sumpah kalau yang ini sih saya nyerah deh, secara saya juga jaman lagi gila bola juga kaya gitu, hihihihihi).

Yang baru lainnya apa yah ?

2. NGEKOST/NGONTRAK BERDUA

Dari dulu, semenjak jaman kuliah, jarang banget saya sharing kamar apalagi tempat tidur dengan orang lain. Bukan apa-apa, selain karena kebiasaan tidur ala “pencak silat “ saya yang sudah pernah memakan korban, saya sendiri juga kurang nyaman kalau harus berbagi ruangan yang menurut saya adalah ruang privacy saya. Nah, waktu pertama kali pindahan, si bibib sampai geleng-geleng kepala melihat barang-barang saya yang memenuhi lebih dari setengah space kamar kost kami berdua, termasuk lemari pakaian dan rak sepatu yang habis saya jajah. Selama kurang lebih enam bulan ngekost ini, saya belum terlalu merasakan perbedaan yang signifikan soal pekerjaan rumah tangga seperti mencuci dan beres-beres kamar, karena semua sudah termasuk service kost yang disediakan. Tapi yang baru saya rasakan dan menurut saya cukup aneh adalah……….. mencuci pakaian dalam si bibib. Hahahahaha, aneh aja gitu rasanya nyuci pakaian dalam selain pakaian dalam saya sendiri. Tapi lebih aneh lagi, dan saya juga ga rela, kalau pakaian dalamnya dicuciin orang lain sih. Jadilah saya menjadikan ini PR yang baru. Kalau pakaian….wuih nehi-nehi bunjare lah. Serahkan saja pada jasa laundry yang sudah bertebaran di setiap sudut komplek or pinggir jalan.

Nah, sejak bulan Januari 2012 ini, kami memutuskan untuk pindah ke kontrakan mungil demi menghemat biaya tempat tinggal yang harus dialihkan ke pos yang lain. Yang ini tidak kalah hebohnya, karena kami harus mulai mengisinya dengan barang-barang yang tadinya tidak kami miliki karena selama ini sudah disediakan di kost. Kami mulai hunting satu persatu mulai kasur, lemari termasuk kompor portable,  daaannnnn ngomongin kompor, saya mulai kebiasaan baru…..

3. BELAJAR MASAK

Wow,… yang satu ini sih benar-benar hal baru buat saya, mengingat sejarah perkenalan saya dengan dunia masak-memasak yang bisa dibilang selalu berakhir dengan kegagalan. Bahkan mamak saya di Makassar pun geleng-geleng dengan ke”idiotan” saya dalam hal menghafal bumbu dan ukur-mengukur. Tapi, demi melengkapi status sebagai emak-emak, saya bela-belain deh belajar masak, nyontek dari resep online, nanya-nanya mbak-mbak pramuniaga di swalayan ketika harus belanja bumbu dan segala macam tips-tips masak yang Alhamdulillah sampai sekarang belum bisa saya hafalkan semuanya. Percobaan pertama, hasilnya, kalau mengutip kata-kata si bibib, “masih bisa dimakan”…. Wkwkwkwkwk…… maklum, namanya juga orang dodol nyoba masak, ada aja bumbu dan urutan memasukkan bahan yang tertukar. Setelah percobaan yang ketiga, barulah si bibib bilang “enak” sambil menambah porsi yang kedua dari masakan saya. Yihaaaa……senangnya kaya abis dapat promosi.

Hehehehehe…..sebenernya sih masih banyak yang pengen saya ceritain, tapi postingannya bisa bikin orang bosen bacanya nanti. Setidaknya postingan ini juga sekaligus jadi postingan “come back” di blog tercinta ini…. *tsaaahhhh*

(Tetep, karena ini postingan “come back”, boleh dong kalo saya ma si bibib narsis-narsisan dikit di sini….)

WE REFUSED TO SMILE...LET'S CEWAWAKAN..

I DO…I DO…I DO

I Do…..

Adalah salah satu keputusan penting yang pernah saya buat dalam hidup selain memutuskan merantau di usia yang masih terlalu “kecil” menurut orang orang.

I Do…..

adalah langkah besar yang saya ambil ketika saya merasa sudah waktunya beranjak dari ruang nyaman yang saya ciptakan demi melindungi ketakutan saya sendiri.

I Do…..

adalah komitmen berat yang akan saya jalani dengan segala konsekuensinya. Sempat terpikir, ironis rasanya, karena dengan kemerdekaan saya mengatakan I Do, saya justru memenjarakan kebebasan saya sendiri. Sampai kemudian, saya tersadar, saya justru sedang memerdekakan diri saya sendiri untuk membagi hidup saya dengan orang yang tepat.

dan…

dengan yakin saya akan bilang,

I DO….I DO…I DO…

Note:

invitation was designed by macangadungan

(BUKAN) JADI DEBT KOLEKTOR DI NTT

Postingan kali ini saya mau menepati janji, membuat postingan tentang pekerjaan saya ketika berada di NTT. Sebenarnya pekerjaan saya bukan debt collector seperti yang ditebak oleh bang Anderson di postingan sebelumnya, tapi lebih tepatnya -kalau yang tercantum di slip gaji setiap bulannya- pada saat itu adalah analis data piutang. Awalnya saya diterima lewat rekrutmen di Makassar ketika saya mudik ke sana setelah 6 bulan menjadi pengangguran di Bandung, tepatnya tahun 2004. Ketika saya diterima di sana, pihak rekrutmen memberitahukan kepada saya, bahwa saya hanya akan bekerja selama seminggu di Makassar dan selanjutnya saya akan diberangkatkan ke Jeddah untuk jadi TKW…healah, ga dink, ngaco.com yang ini mah .  Maksudnya, setelah seminggu bekerja di Makassar, saya harus berangkat ke Jakarta, untuk menjalani training selama 3 bulan di kantor pusat sana. Belum habis tiga bulan masa probation saya, bos saya minta ke HRD agar saya tidak dikembalikan ke Makassar bersama 4 orang lainnya teman seperjuangan saya. Ketika pertama kalinya bos saya menyuruh saya berangkat ke NTT, saya sempat ngambek sampai nangis-nangis bombay, mempertanyakan apakah bos saya tidak puas dengan pencapaian saya ketika memegang wilayah Palembang dan Prabumulih makanya saya di-rolling ke NTT. Saya panik, saya takut karena yang ada di bayangan saya sebuah wilayah antah berantah yang penduduknya masih terasing, tidak berbaju hanya berkoteka…eh, itu papua yah…hihihihi… Intinya, sampai hari H saya masih panik dan untungnya bos saya yang saya panggil ‘babe’ *jangan dibaca beb yah* tidak merasa terganggu ketika dari pagi saya terus merongrongnya untuk memastikan saya ada yang menjemput di airport Kupang.

“be…babe, bener yah, nanti aku ada yang jemput di airport yah…yah…be…” si babe cuma ngomel-ngomel ketika saya terus mendesaknya plus tampang melas mau nangis.

“hush bawel, apaan sih nangis, malu tuh sama rambutmu, sek…sek..ta’ telponin nih, biar kamu percaya yo…” dan si babe langsung angkat hape, telpon seseorang di kantor Kupang sana untuk jemput saya di airport.

Saya sudah tidak ingat maskapai apa yang saya tumpangi waktu itu, penerbangan yang ditempuh kurang lebih 3 jam di luar waktu transit 30 menit di Surabaya. Penerbangan dari Surabaya menuju Kupang saat itu adalah pengalaman terbang terburuk yang pernah saya alami seumur hidup saya. Cuaca buruk dan hujan yang tiada hentinya membuat turbulensinya parah banget. Saking parahnya sampai-sampai tempat penyimpanan barang yang ada di atas kepala penumpang sempat terbuka. Saya panik, tegang, takut, campur-campur deh, sementara bapak di sebelah saya ngomong gini ke saya, “nona, mari katong berdoa sa…” seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Dada dia tentunya, bukan dada saya. Hehehehehe…. Anyway, kok saya malah jadi cerita perjalanannya yah bukan kerjaannya selama di NTT ? ok, back to topic aja deh…eh kentang yah ? lagi seru yah ? hm…to make my skirt, I mean…the story  short, akhirnya pesawatnya landing dengan selamat setelah berputar-putar beberapa puluh menit karena landasannya terlalu licin atau apalah saya juga nggak ngobrol sama pilotnya soalnya.

Banyak sekali pengalaman yang campur-campur rasanya, mulai dari yang sedih sampai menyenangkan sehubungan dengan pekerjaan saya sebagai analis data. Salah satunya adalah ketika saya ditugaskan untuk mengecek rute perjalanan kolektor selama mereka melakukan tugasnya. Hal ini perlu kami selaku analis data lakukan dalam rangka membuat rute wilayah sesuai dengan jumlah konsumen dan kondisi geografis wilayah supaya proses penagihan bisa berlangsung efektif. Kongkritnya sih begini, pembagian jumlah konsumen yang harus ditagih antara satu kolektor dengan kolektor yang lain pastinya tidak bisa disamakan karena bisa dipengaruhi beberapa faktor, seperti yang saya sebutkan tadi, kondisi geografis, untuk wilayah kota, bisa jadi rumah konsumen yang satu dengan konsumen yang lainnya tidak terlalu jauh dan akses jalannya pun masih bagus. Untuk kolektor yang kebagian wilayah seperti ini, biasanya mereka bisa diberikan beberapa wilayah kecamatan sekaligus dengan jumlah kuitansi yang bisa jadi lebih banyak. Beda kalau kebetulan ada kolektor yang kebagian wilayah dusun atau pedesaan, yang jarak antara rumah konsumen yang satu dengan yang lainnya jauh dan medannya berbukit-bukit dan berbatu-batu. Kenapa saya kelihatannya kenal dengan kondisi geografis di sana ? Karena saya terjun langsung, saya ikut membonceng bapak-bapak kolektor yang akan menagih ketika itu, dan saya memilih ikut yang di pedesaan, dan sempat membuat si bapak kolektor yang saya sudah tidak ingat namanya itu membelalak sambil berkata “sonde salah ko ibu bos mau ikut ? Jauh sudah ibu bos…nanti ibu bos sakit”. Saya cuma nyengir sambil menepuk dia, “yuk brangkat, pak”. Yup, saya ikut bapak kolektor membonceng motornya, keliling-keliling, tapi saya tidak membantu dia menagih sih karena tugas saya waktu itu hanya mengecek rute dan sesekali memperhatikan cara dia menagih konsumen dan dari situ saya jadi tahu macam-macam cara konsumen yang tidak/belum bisa bayar untuk menghindari penagihan, misalnya :

1.  Pura-pura nggak ada orang di rumah.

Kalau kata kolektor sih begitu. Ini biasanya jenis konsumen yang sudah ditagih untuk keberapa kalinya tapi belum bisa bayar, tapi nggak jago ngasih berjuta alasan.

2.  Ngeluarin anjing peliharaan buat “menyambut” kolektor.

Yang satu ini, sumpah, nyebelin banget, walaupun saya penyayang anjing, tapi kalo anjingnya galak gonggong dengan buntut menjuntai ke bawah, mending berdoa biar si anjing tiba-tiba pingsan, errr…misalnya.

3. Pasang tampang melas sambil memberikan berbagai alasan, mulai dari ojek lagi sepi (di daerah soe dan keffa ketika itu kebanyakan motor kreditan dipake ojek), trus belum dapat uang dari panen/tani. Pokoknya intinya sonde ada uang untuk bayar.

Biasanya kalau sampai tiga kali ditagih, atas kebijakan perusahaan, biasanya motornya akan ditarik dan ditahan beberapa waktu sampai konsumen datang kembali menebusnya, atau the worst scenario, kalau sampai akhir bulan tidak juga dibayar cicilannya, biasanya motornya akan diretur dan masuk stok motor bekas. Saya masih ingat beberapa cerita soal motor-motor konsumen yang ditarik itu, mulai dari motor sebuah keluarga yang akhirnya ditarik tapi diselingi teriakan histeris yang ditujukan kepada kolektor penarikan motor kami lengkap sambil bawa-bawa  nama Tuhan, kaya gini “biar sa, biar Tuhan Yesus yang balas”. Saya cuma bisa tersenyum kecut sambil pandang-pandangan dengan si kolektor. Terlalu besar resiko yang harus ditanggung kalau saat itu motor tidak ditarik, karena next time dikunjungi lagi, bisa jadi motornya sudah disembunyikan di lain tempat atau dimasukkan ke dalam kamar, which is kolektor kami tidak punya hak untuk menerobos masuk dan mengambil paksa motornya. Tapi peristiwa paling menegangkan buat saya waktu itu adalah ketika sedang ada di cabang Keffa, Kabupaten Timur Tengah Utara. Ketika itu salah seorang kolektor kami berhasil menarik motor seorang tentara yang selama ini berdasarkan laporan dari kolektor saya selalu dengan semena-mena menolak membayar cicilan motornya dengan alasan yang tidak jelas. Malam itu kurang lebih jam 7 atau jam 8, tiba-tiba di atap dealer tempat saya sedang lembur berjatuhan batu-batuan yang ukurannya besar, uedannnnn….saya panik, karena ternyata batu-batu itu bukannya jatuh dari langit (ya iyalahhhhh) tapi lemparan dari beberapa orang preman yang setalah diintip oleh karyawan dealer itu jumlahnya kurang lebih satu truk. Asli saya panik, gemeteran, bukan apa-apa kalau sampe atapnya jebol dan kena tuh motor-motor gimana ceritanya ?? sapa yang mo ganti ? Berdasarkan info dari karyawan lainnya, gerombolan preman itu orang bayaran si tentara yang tidak rela motornya ditarik. Jaaaaahhhh…bayar aja dulu, braninya kok kroyokan. Akhirnya malam itu, seperti film-film India standar, si bapak polisi yang ditelpon sebelumnya datang setelah acara lempar-lemparan batunya selesai. Dan saya semalaman tidak berani tidur gara-gara itu.

Kalau diingat-ingat, asli kerjaan saya itu nggak banget deh. Harus ikut ngurusin operasional juga, menampung curhatan dari kolektor dan divisi kredit karena targetnya naik terus…lha…lo pikir target gue kagak naik juga apa ? Belum lagi harus ikut mengurus update data dan membuat laporan setiap kali diminta. Akhirnya saya hanya sanggup bertahan selama setahun pas di pekerjaan ini dan mengundurkan diri. Kalau kata mamak saya, dia khawatir tiap kali nelpon, kalau nggak lagi on the way ke bandara, lagi di travel atau lagi di hutan mana.

Well, at least selama perjalanan saya ke berbagai tempat itu, saya masih bisa menjaga properti kantor seperti laptop supaya tidak diaku milik oleh orang-orang tidak bertanggung jawab a.k.a maling seperti yang dialami oleh teman saya di perjalanan menuju sebuah daerah di Sulawesi sana ketika laptop milik kantor itu ditukar dengan kertas A4 se-rim ketika teman saya terlelap tidur di travel.

Ada yang mau sharing pengalaman kerja pertamanya ?