MENGANDALKAN INTUISI

Judul tulisan ini kelihatannya berat dan terlalu serius. Ya, memang betul adanya, mempercayakan penjagaan dan pengasuhan anak pada orang lain memang hal yang berat dan serius. Terutama untuk ibu-ibu pekerja seperti saya, lebih spesifik lagi ibu-ibu pekerja yang tidak bisa dengan mudah menaruh kepercayaan pada orang lain berlabel Asisten Rumah Tangga (“ART”) yang beberapa tahun ke belakang  berita mengenai tindak tanduknya yang “aneh-aneh” membuat ibu-ibu pekerja seperti saya – kalau saja punya pilihan – rasanya mau resign dari pekerjaan saja.
Kurang lebih setahun yang lalu, saya dan suami memutuskan untuk mempercayakan penjagaan dan pengasuhan anak saya, Btari Azka Zakiya (biasa kami panggil Bee )di sebuah tempat penitipan anak (daycare). Keputusan yang dibuat dalam hitungan jam setelah beberapa hari sebelumnya sempat berandai-andai bagaimana kalau Bee kita titipkan di daycare mengingat si ibu pengasuh Bee sudah menunjukkan tanda-tanda tidak betah. Saya bahkan sudah sempat survey ke salah satu daycare yang letaknya di gedung perkantoran tepat di sebelah gedung di mana saya berkantor. Fasilitasnya premium, tapi entah kenapa saya merasa ada yang tidak klop. Mungkinkah pengasuhnya ? Entahlah, saya merasa walaupun fasilitasnya premium tapi tidak terasa rumah. Ada atmosfer yang tidak nyaman menurut naluri keibuan saya (?) Hari itu akhirnya tiba, selepas subuh si ibu pengasuh yang masih kerabat dekat suami saya tiba-tiba minta pulang kampung dengan berbagai macam alasan. Singkat cerita, akhirnya pagi itu, saya, suami dan Bee sudah di jalan dan masih belum memutuskan daycare mana yang kami tuju. Setengah perjalanan saya dan suami berdebat mengenai daycare mana yang akan kami pilih yang mana pertimbangannya ujung-ujungnya adalah mengenai biayanya. Akhirnya kami (tepatnya saya) memilih sebuah daycare yang terletak di dalam sebuah apartment yang saya pun bahkan belum pernah survey langsung ke sana. Saya hanya mengandalkan intuisi saya sambil berharap semoga kali ini intuisi saya tidak berkhianat. Sampai di sana kami langsung disambut oleh pengurus daycare, setelah dijelaskan mengenai segala fasilitas dan besarnya biaya, sampailah di saat yang paling sulit, melepaskan Bee. Sepanjang perjalanan saya sudah sibuk membayangkan reaksi Bee ketika akan kami tinggalkan di daycare  mengingat Bee anak yang sangat sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, jangankan beradaptasi, disapa orang asing saja dia bisa menjerit ketakutan dan berakhir menangis sesengukan di pelukan saya. Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti sama sekali. Bee langsung tenang bermain dengan beberapa anak-anak penghuni daycare dan tidak menangis sama sekali, bahkan saya yang meneteskan airmata ketika dalam perjalanan ke kantor. Ya, saya yang bergaya preman ini memang berhati hello kitty sejak bergelar Ibu. Sampai di kantor, saya langsung menghubungi daycare dan memastikan Bee baik-baik saja. hal itu berlangsung selam seminggu dan saya dibuat terkagum-kagum dengan kemajuan yang dialami Bee sejak dititipkan disana. Akhirnya kami memutuskan bahwa inilah pilihan terbaik untuk Btari, sampai sekarang genap setahun kami mempercayakan Bee kepada ibu-ibu pengasuh di sana. Kenapa saya akhirnya memilih daycare itu padahal saya belum pernah survey ke sana ? Sampai sekarang saya sendiri tidak tahu jawabannya, saya hanya percaya pada intuisi saya. Intuisi saya tidak berkhianat. Ternyata Bee memang cocok di sana, bahkan orang-orang sekitar saya menyadari perubahan positif dari Bee. Bee lebih percaya diri, Bee lebih ceria, yang jelas saya nyaman dan merasa aman mempercayakan Bee kepada ibu-ibu pengasuh di sana.
Bagaimana dengan saya dan suami sendiri ? Kami mulai terbiasa dan akhirnya merasa nyaman, walaupun bisa dibilang perjuangannya jadi berlipat kali karena harus menangani pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan ART. Tapi keutuhan kami sebagai tim diuji di sini. Tanpa diskusi panjang, tiba-tiba saja kami sudah berbagi berbagai macam tugas rumah tangga, mulai dari membereskan cucian sampai dengan urusan membeli makanan. Kami sering sekali membeli makanan dari luar, saya harus mengakui saya belum punya keterampilan yang cukup untuk meramu bahan-bahan makanan menjadi sajian yang nikmat untuk dimakan keluarga kecil saya. Suami sih memang belum pernah mengeluh, tapi saya yakin dompetnya sudah mulai menjerit kesakitan. Hahahahah….
Perjalanan masih panjang, perjuangan belum berhenti sampai di sini tapi paling tidak, saya, suami dan Bee adalah tim yang solid dan mampu menikmati pengalaman ini. Itu kata intuisi saya, dan lagi-lagi, tolong tetap setia ya intuisiku.
BEE'S TRIP
Advertisements

5 Comments

  1. Baca ini, gue jadi pengen nikah sama cowok yg bisa jadi partner rumah tangga gue. Hahaha… a teammate sounds so much better than lover XD

    • tetep le…kudu cinta dulu, abis cinta baru bikin komitmen, dari komitmen trus kerja team deh. bikin anak aja kan perlu kerja team *eh. heheheheh

    • alhamdulillah mbak, kalau tidak, mungkin tidak sampai setahun, kami sudah menyerah. hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s