TIME WILL HEAL

Teorinya sih begitu, tapi pertanyaannya BERAPA LAMA ? Sebenarnya tidak ada teori jitu satu pun yang bisa mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan sakit yang diakibatkan patah hati. Variabelnya terlalu banyak sehingga tiap orang juga punya cara masing-masing dalam meracik formula yang cocok untuk menyembuhkan sakit hatinya. Tergantung kondisi hatinya. Ada yang merasa hancur total setotal-totalnya, ada yang merasa tidak pede termasuk merasa tidak kece (aih bahasa saya kece…), ada yang meluapkan kesedihannya kemana-mana bak keran bocor, ada yang (sok) baik-baik saja tapi di dalamnya hancur total setotal-totalnya, endesbrey….endesbrey… Intinya orang patah hati itu bisa berubah jadi orang yang berbeda dari sebelumnya. Mau diomongin apa saja, dimotivasi apa saja, termasuk dimaki-maki apa saja soal kepatah-hatiannya ini kadang atau bahkan seringnya tidak mempan. Merasa orang paling nelangsa sedunia deh. CUPU ?? Iya, memang. Tapi siapa yang bisa mengontrol perasaan macam itu ?

Saya pernah ada di posisi itu. Kondisi hati dan fisik bisa dibilang seimbang dalam hal kehancuran, ya itu dia, hancur total setotal-totalnya (menurut saya sih, ga tau kalau orang lain)!!! Apa yang saya lakukan ? Hampir semua cara yang memungkinkan untuk membuat saya merasa lebih baik, (ingat lebih baik, bukan menyembuhkan)  saya lakukan.  I do feeling better, tapi itu tidak lama karena kalau saya dalam keadaan sendiri dan tiba-tiba ada hal-hal yang mengingatkan patah hati saya, ya saya drop lagi. Begitu terus, berulang sampai saya benar-benar kusut. Saya jadi tidak pede, jadi sarkas, tidak percaya sama orang lain, bawaan curiga melulu, terutama sama laki-laki yang kelihatannya punya potensi untuk mendekati dan punya maksud lebih dari sekedar menjalin silaturahmi (halah!).

Angkat tangan yang pernah atau saat ini mengalami hal serupa ? Yak, saya yakin ada puluhan atau ratusan perempuan yang mungkin akan unjuk tangan. Saya cuma mau bilang, nikmati masa berduka kalian, kasih kesempatan hati untuk berduka, just do whatever it takes to heal your broken heart. Tapi jangan terlalu lama memanjakan si hati. Find your closure and immediately go to the open door. Sounds cliche ? Pastinya. Prakteknya ? You go figure. Salah seorang teman saya yang belakangan ini suka “nyampah” di blog-nya soal patah hatinya sudah membuktikan itu. Dia berani “freefall” untuk menjalani semuanya. Dia tidak gengsi untuk disebut “nyampah” karena dia tidak perlu peduli apa kata orang yang dia peduli adalah perasaannya, bahwa dia harus bisa “move on”.

You go girl… I’m proud of you.

Ah, akhirnya jadi juga postingan “sampah” ini. Hahahaha….        

Advertisements

1 Comment

  1. Lea sudah bangkit dari kubur! Dan gue bener-bener bersyukur bisa semudah ini move on. Gue udah parno aja, takut bakal berlama-lama. Mungkin suatu hari bisa tiba-tiba kumat atau break down. Tapi at least gue gak perlu lagi nangis tiap hari 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s