RASA ANONIM

Karena beberapa hal sebaiknya dibiarkan tak terungkap, maka aku memilih diam dan membiarkan rasa itu tak bernama. Aku tahu rasa itu terlalu liar untuk dibiarkan berkembang dan berlompatan kesana-kemari sesukanya. Ada dinding yang akan berderak karena tubrukan yang ditimbulkannya walaupun tak bisa dipungkiri ada kekaguman akan percikan yang ditimbulkan setiap kali rasa itu berlompatan kesana-kemari, menubruk tanpa kendali.

HATI – si produsen rasa yang tidak seharusnya diberi nama itu – memang tidak dapat ditebak. Ketika aku melonggarkan sedikit saja penjagaan atasnya, absen beberapa waktu saja untuk mendidiknya, dia berkhianat dan membuatku tersentak.

“Apakah ini rasa….. hmm…..?”

“bukan…. pasti bukan itu namanya!!!”

Karena RASA itu memang tidak seharusnya diberi nama.

Advertisements

12 Comments

  1. sebuah rasa, rasa-rasanya bisa tetap dirasakan selama itu masih merasa

  2. absen beberapa wktu mendidikny….ya rasa mmg mesti jg dididik..dimana?dihati tepatnya..
    kunjungan pertama dr ranah minang..

  3. Kalau soal rasa tidak akan pernah ada habisnya sebab hati manusia selalu dipenuhi dengan berbagai rasa

  4. rasa tidak harus berasa. rasa timbul dari hati dan kulit. kalau dirasa halus ia akan tetap menjadi halus tidak akan berubah menjadi tajam jika otak tidak pernah berkata tajam 🙂

  5. Waahh,, seru juga nih ternyata baca artikel sambil rokok_an n ngopi.. Ahihihihi..

  6. Penulisannya mengingatkan ane pada kawan ane nun jauh disana..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s