YANG TERSISA DARI MUDIK

Sedikit goresan sentimentil yang tersisa dari mudik tempo hari…

Ada haru yang menyeruak dan mulai menghangat di dada ketika perlahan kusisir rambutnya yang ikal itu, rambutnya sebagian besar sudah memutih. Ah, begitulah mekanisme alam, siapa yang bisa menahan waktu. Hari ini aku berjanji mengecat rambutnya, warna merah pintanya, karena katanya lagi, malu sama ibu-ibu yang lain kalau uban mamak belum ditutupi. Saya tergelak, namanya juga sudah tua mak. Saya ambil tangannya, saya ciumi, dan mulailah kenangan sentimental melintas di kepala, seperti memutar film lewat projector, memunculkan potongan-potongan gambar masa kecil, slide demi slide. Tangan itu sudah kisut, sedikit keriput, walaupun tetap halus di pipiku. Tangan yang dulu, ketika saya kecil, menguncir rambut saya yang tipis dan merah itu dengan sangat eratnya, sampai pusing kepala saya dibuatnya. Mamak bilang dia heran kenapa sekarang rambut saya bisa begitu hitam dan tebalnya, tidak seperti rambut adik-adik saya yang lain yang sedikit merah, padahal tertutup hijab. Tangan itu pula yang (dulu) akan menyeret saya naik ke tempat tidur untuk tidur siang  (walaupun saya sebenarnya lebih memilih bermain karena belum mengantuk) agar tidak terkantuk-kantuk ketika mengerjakan pekerjaan rumah malam harinya. Tangan yang sampai sekarang masih dengan lincahnya memilin tali rafia dan membungkus burasa saban lebaran tiba.

Masih sambil bercerita dan menyemir rambutnya itu, saya berkali-kali harus meninggikan volume suara saya agar mamak bisa mendengarkan suara saya. Yah, telinga itu, sudah mulai menurun daya dengarnya. Lagi-lagi masalah usia, siapa yang bisa melawannya. Awalnya saya mengira mamak saya sedang melamun dan banyak pikiran sampai-sampai tidak mendengarkan saya yang sedang berceloteh di dekatnya, sampai kemudian adik saya memberi isyarat bahwa mamak sudah mulai tidak mendengar. Telinga yang dulunya selalu disediakan untuk mendengarkan celotehan saya tiap malam tentang teman-teman saya di sekolah, padahal matanya sudah terkantuk-kantuk kelelahan setelah mengajar siang harinya di sebuah sekolah menengah negeri. Telinga yang selalu berharap mendengarkan suara anaknya untuk melepas rindunya, walaupun hanya seminggu sekali melalui gagang telepon atau ponsel.

Rambut yang memutih, tangan yang keriput, dan telinga yang menurun daya dengarnya, ah, saya jadi tersadar, betapa banyak waktu yang saya lewatkan tanpa kehadiran mamak di samping saya, seperti juga mamak saya selalu bilang, dia sedikit sedih karena tidak bisa mendampingi langsung dan melihat saya tumbuh dewasa.

Dan hari ini, Mamak, biarkan tangan ini menyisir rambut yang mulai beruban itu dan mengecatnya merah seperti pintamu, ijinkan pula tangan ini memijat lembut tangan yang mulai keriput itu dan memutar-mutarnya sampai kau tertidur (mamak selalu tertidur kalau saya yang memijatnya, katanya enak, bikin ngantuk) dan kusediakan telinga ini untuk mendengarkan semua cerita-ceritamu, bahkan untuk mendengar pertanyaan “keramat” yang jarang kau lontarkan karena tak mau menyinggung anakmu yang justru tak tahu terima kasih ini. Tapi tetap saja itu tidak cukup, mak. Tetap tidak cukup untuk menggantikan semua yang sudah mamak berikan lewat semua indera itu. Tetap tidak cukup menggantikan kebersamaan yang terenggut oleh pilihan anakmu untuk menjalani hidup di tempat yang cukup jauh dari jangkauanmu.

Bapak, seperti biasa, tidak banyak kata yang terlontar darinya. Buatnya tidak penting lauknya ini cocoknya dengan sayur yang mana, buatnya cukup ada makanan yang terhidang di meja, mengenyangkan dan tidak membuatnya gatal. Sesederhana itu. Beliau baru akan berkomentar pedas kalau melihat saya berkeliaran di rumah dengan celana pendek yang memamerkan betis dan paha saya yang memang tidak ada indah-indahnya itu. Celotehan heboh baru akan terdengar dari mulutnya kalau kedua cucu kesayangannya sudah datang ke rumah sambil berteriak “pung lato….lagi ngapainki ?”. Walaupun diamnya Bapak sudah merupakan hal yang biasa, tetap saja tahun ini saya merasa berbeda, entahlah, saya merasakan ada aura kekecewaan yang terpancar di sorot matanya setiap kali saya mencoba menyapanya ketika dia sedang bersantai. Kecewakah dia karena sampai saat ini saya masih belum berhijab ? Ataukah dia masih khawatir karena saya belum juga membawa seorang pria pun ke hadapannya untuk saya perkenalkan sebagai calon pendamping saya ? Ah, itu tidak mengubah apapun. Saya tetap sayang sama Bapak. Semoga pelukan di bandara kemarin bisa mengalirkan rasa sayang saya pada Bapak, sekaligus mencairkan semua kekhawatiran beliau akan saya.

Aku selalu rindu mamak dan Bapak…. *jemari ini sudah tidak bisa mengetik apapun, sibuk merogoh tissue, menyeka bulir bening yang mulai menggenang di pelupuk*

DSC00388

Advertisements

52 Comments

  1. Jah.. Jadi kebawa suasana nih.. **Nyari tisu juga**

    Begitu besar cinta, sayang, perhatian orang tua, yang kadang2 baru kita sadari sehabis membentak, membantah, atau sekedar meninggalkan mereka… Jadi pengin pulang kampung lagi minggu ini.

  2. Haduh… Gua jadi ikutan sedih :((

    Gw juga kangen ama bokap nyokap gua…

    ayoo…mudik…mudik bareng esther dan andrew….hehehehe

  3. HHmmmm …
    Gaya bercerita Nye’ … yang agak lain ini
    Ada kecintaan yang kental kepada Mamak dan Bapak …
    dari seorang Nye’

    Salam saya Nye

    iya, om….cinta bangettttttt sama Mamak dan Bapakku… 😀

  4. curhat yang baguuus mbak, apalagi ditulis dengan penuh perjuangan melawan sakit! saya salut sama mba Frozzy bisa kangen sama kedua orangtua, kalau saya kok ndak ya?

  5. nyunyu..mamak n babak masih kangennnn tuh..
    mudik lagi gih, luangkan waktu yang banyak buat mereka
    ocreee cin :p

  6. Tiada yg paling mulia dan berharga dalam kehidupan kita di dunia ini, yg melebihi keduanya… Merekalah yg telah merawat dan melindungi kita dgn curahan kasih dan sayangnya…. Semoga Tuhan, senantiasa memuliakan mereka berdua…
    Salam hangat dari saya, utk mbak Frozzy dan Keluarga, serta orang2 tercinta… Salam damai selalu…

  7. Jgn pernah tinggalkn sholat 5wkt mu nu,itu pesan mama’,bapak,dan tdk ktinggalan inun bpesan..

    jaah….pesan2 sponsor hadirrr di sini….ampun ummiiii… 😀

  8. selamat bertemu dengan keluarganya lagi yaa 🙂

    udah jadi sarjana kann 🙂

    udah debuan ijazah sarjananya, huang…. 😀

  9. Iya.. tiap mudik adalah masa ketemu mereka,
    rasanya mereka makin tua tahun-demi-tahun
    rasanya selalu kurang usaha ini buat bikin mereka bangga 😦

    BTW,
    Mohon maaf lahir batin froz

    sama2, eru, maaf lahir batin. yup, semoga masih ada cukup kesempatan untuk membahagiakan mereka… 🙂

  10. Benar2 sentimentil… 😉

    BTW, Nu, kemaren mudiknya kemana ya?

    iya nih, lagi kangen bangettt, jadi pengen mudik lagi ke makassar…. 😉

  11. yaoloh til! sentimentil bgt neh? lo udah berumur yah makanya tiba2 keluar opstingan macam ni. lo bikin gw jadi feeling guilty gitu deh sama mamak aku karena kutinggal merantau. sengaja kau yah? ya sudahlah, selama kau kerja dengan baik dan kembali membawa cucu buat mereka, tak mengapa lah..

    gyaaaa……cun….sekian lama, nongolnya kok di sini sih ? hihihihi, makanya buruan balik ke jakarta, kelamaan tar jd udik lo. 😀

  12. Wah, Frozzy nangis…. cup..cup..cup… jangan nangis yah, nanti om beliin Dunhill Menthol *celingukan nyari warung rokok* 😀

    mentahnya aja boleh om… ? hehehehe, udah 50 hari nih ga doyan dunhill mentholl, hehehehe

  13. walaupun udah ga bisa dengar, kasih sayang seorang ibu tidak berubah dari kita lahir sampi dewasa. jadi kangen………

    selalu kangen… 😀

  14. huaaaaaaaa keren banget kata2 & ceritanya…
    *terharu*

    btw, blognya bagus euy… suka poto juga ya? kalo sayah suka dipoto doang 😀

    thank you.. saya suka poto, dipoto maksudnya…hehehe, sekaligus penikmat keindahan poto. 😀 tapi kurang suka majang foto sendiri 😀 .

  15. gilaaa…jujur gw jga gak bisa berkata banyak
    sosok asli gw jadi keliatan saat baca coretan ini…

    gw dari kecil memang jarang bangat menghabiskan waktu dengan mereka
    bahkan, melohat gw tumbuh kembangpun adalah hal yang asing

    tiba2 semua dah berlalu, tiba2 semua dah berubah
    tak pernah tau suka duka dalam hari hari mereka…

    *ah, gw tambah sedih deh jadinya*

    nah….lho….emang aslinya zulhaq kaya apa ? :D. ayo, sisihkan waktu juga untuk mereka zia….mereka pasti sebenarnya nunggu…. 😀

  16. Hmmmm… bener2 sentimentil memang.
    Anda pintar merangkai kata, Bos!

    hehehe, makasih mas, namanya juga lagi curcol… 😀

  17. Tulisanmu mengharukan sekali. Sempat saya kira tadi cerpen, tapi kata-katanya indah sekali… 🙂
    Artinya kamu memang cinta sama orantua say 🙂
    Maaf lahir batin yah..

    hehehe, makasih. mirip cerpen yah ? mungkin cara penyampaiannya yah… . 😀 maaf lahir batin mbak zee

  18. **speachlesss………….
    aku amsih belum bisa dekat den9an bapak… 😦

    hehehe, saya juga kok. yang penting kan kita tidak putus komunikasi. 😀

  19. maaf lahir batin…
    makasih buat oleh-oleh mudiknya, berharga banget nih…jadi perenungan buat saya.

    sama, mas. senangnya bisa saling mengingatkan.:D

  20. mohon maap lahir bathin
    salam dgn keluarga, tak ada yg lebih indah selain berkumpul dgn keluarga
    xixixii..

  21. Dari Makassar? Saya batal punya camer dari sana. Kalo papa mama kebetulan serumah [meski seminggu sekali, setidaknya nggak kangen2 amat], jadi nggak pernah sesedih itu.

    weuw….jadi sekarang camernya dari mana, jeng ? hehehehe… seminggu sekali dan setahun sekali…ya iyalah, jeng beda rasanya. 😀

  22. haduuuhhh, kleneex please…..
    gw juga kadang iri sama temen2 yang tinggal sama orang tua di jakarta raya ini. mereka bisa setiap hari bertemu orang tuanya, paling ngga mencium tangan mama papa nya setiap pagi,, ahhhh,,, pengen nangisssss….

    hehehe, perantau juga cha ? :D..cup..cup…*peyuk2 cha*

  23. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank sukses selalu yaaaak
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

  24. terharu sekali membaca cerita tentang ibu, jadi inget ibu saya dan ingin kembali ke masa kanak-kanak yang indah ketika dimanjakan orang tua kita

  25. hiks2..ga terasa kita sudah begitu lama ga bermanja2 sama ortu…

  26. wahhh…
    saya dah 9 taon gak ketemu ortu..
    ehehe

    *pengungkapan rasa sayang terhadap orang tuanya bagus sekali.. 😀

    makasih kunjungannya..:D

  27. Orangtua begitu.. apa ya? Susah dijelaskan apalagi bila kondisi kita berjauhan dengan mereka… ah ya… banyak yang terlewatkan. Jangankan yang jauh2an, seperti diriku yang tinggal seatap dengan mama pun kadang merasa ada yang terlewatkan… ada sebagian perkembangan mama yang tidak kuperhatikan (dulu mereka yang memerhatikan perkembangan/hidup kita, sekarang kebalik :p hehehehe).

    Well, salam kenal ya 🙂

  28. penyesalan selalu datang belakangan.
    begitu juga say,kangeeeeeen banget sam bunda…seandainya bisa bertemu,aku ingin bertanya.pernakah engkau bahagi dan bangga karenaku..??????

    salam kenal

  29. sista.. jd ikutan sedih nih bacanya
    semoga bapak mamak dan orangtua kita semua panjang umur yaa.. hingga kita dikasi waktu lebih untuk membahagiakan mereka

    *hug-hug*

    peyuk2…nancy…iya, mudah2an yah….:)

  30. Mudik memang penuh haru, tapi kali ini aku mudik penuh keceriaan

    pastinya sih ceria…tapi ada aja sentimental stuff yang hadir, apalagi ketika berhubungan dengan orang tua.

  31. Terharu, gimana ya rasanya keluarga yang lengkap itu, menyenangkan sekali pastinya 🙂

    semoga ortunya sehat selalu. Amin

    ehm…makasih radesya….

  32. dengan cara bagaimana bundo memanggil gadis cantik ini, Menye?

    bapak tidak kecewa padamu, nak.. beliau hanya terlalu ingin melihatmu bahagia.

    panggil frozzy aja bundo….*blushing*…ah..komen bundo buat aku terharu…. *telp bapak ah*

  33. Mereka tahu kamu adalah anak yang berbakti. Tapi bukti baktimu pada mereka belumlah sempurna sampai kau perkenalkan seorang pria sebagai calon suamimu.

    Biebnya dikenalin aja, Froz. Kapan lagi?!

    Btw, tulisannya keren bgt!!!

    hajierrrr…akhirnya, dirimu mampir juga dimari…. si B udah gue tunjukin fotonya doang ke mamak….kenalin beneran, duh…tr dulu deh…:D

  34. hiks…jadi homesick nih…

    kangen sama mama papaku juga 😦

    hehehe…ayo2 segera pencet2 hape..telpon… 😉

  35. makanya buru2 kawin sana ama bibib. ntar juga berasa jadi ortu *iye, ini komeng tersotoy*
    argh…brisikkk…kawin2 mulu :P.

  36. huuuuuuuuuu, gara-gara baca ini
    aku cepet-cepet telpon ke jkt
    ternyata mereka taruh telepon salah,
    dan baru dibenarkan setelah aku telpon HP sana sini
    dan dapat kabar…baik-baik saja.

    Hubungan kita dengan orang tua memang selalu mengharukan ya

    EM

    melegakan memang kalo sudah dapat kabar mereka baik2 saja di sana. secara ketemu aja tidak bisa sering2, mbak.

  37. mudik lagi .. balik kampung lagi, bentar lagi mudik lagi.. mau puasa dulu habis itu qt mudik lagi ketemu lg di kampung sambil ngrayain lebaran ..asyik nich

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s