Parodi Harian Samuel Mulia Minggu Ini : Asmaradana

Sudah hari Senin lagi. Saya telat ke kantor….hujan. Iya, maaf… kali ini saya mengkambinghitamkan hujan untuk menutupi kemalasan saya bangun pagi di tengah udara dingin setelah hujan semalam. Enaknya sih berkemul sambil meneruskan mimpi (?) semalam, tapi apa boleh buat, teringat tugas di kantor yang baru saya selesaikan setengahnya membuat saya terburu-buru bangun dan segera berangkat ke kantor.

Hm, anyway, karena Minggu kemarin saya tidak ingat sempat membaca parodi harian Samuel Mulia , siang ini (setelah menyelesaikan pekerjaan kantor dan lunch tentunya) mulailah saya menelusuri link ini untuk membacanya. Judulnya : Asmaradana. Kurang  lebih isinya adalah tentang mengelola hubungan dengan seseorang selayaknya seperti mengelola keuangan. Hm… something to ponder about this, apakah mengelola keuangan dengan baik, berarti kita (kita ? elo aja kali, gw ngga…..ok, sorry, hehehehe…OOT yah) juga bisa mengelola hubungan dengan seseorang dengan baik ? Sambil masih memikirkan mengenai pertanyaan itu (mungkin akan saya simpan dulu pertanyaan ini) saya lanjutkan membaca artikel itu, dan ada kalimat yang seperti ini:

Saya pernah dalam kondisi tak punya uang. Mengapa itu terjadi? Karena saya tak pernah memiliki keinginan berinvestasi jangka panjang. Malah senantiasa menghamburkan uang. Menjadi royal adalah kekeliruan, royal itu membuang uang untuk hal tak berguna. Tak bedanya dengan perselingkuhan. Membuang cinta di tempat yang keliru. Maka, karena royal, saya tak punya uang. Sebab tak punya uang, apa yang mau saya investasikan?

Hm, saya coba untuk perlahan mencernanya di dalam otak saya : berarti perselingkuhan adalah menghamburkan atau membuang cinta untuk hal yang tak berguna dan perselingkuhan adalah kekeliruan. Anyways, berbicara soal perselingkuhan pastinya tidak akan pernah ada habisnya. Dan bisa dipastikan perempuan akan menjadi golongan mayoritas yang menentang perselingkuhan itu (KATAKAN TIDAK PADA SELINGKUH…halah….lebay rasanya). Tapi dari tulisan itu saya jadi berpikir, kok rasanya ada yang timpang yah ? Kenapa yang dibicarakan di sini hanya pihak yang berselingkuh ? Bagaimana dengan yang diselingkuhi dan yang menjadi selingkuhan ? Bukannya mereka juga sama-sama ada investasi di dalam hubungan itu ? Yang menjadi selingkuhan sudah menginvestasikan rasa (?) ke dalam hubungan terlarang tersebut makanya hubungan tersebut tetap berlanjut sedangkan sebagai pihak yang diselingkuhi, mungkin dia sudah berinvestasi pada hal yang paling bernilai yaitu hubungan itu sendiri, tapi hasil yang diperoleh malah kebohongan. Apakah ini termasuk resiko yang harus ditanggung dengan mengatasnamakan alasan bahwa yang namanya investasi, juga tidak terlepas dari resiko yang harus ditanggung, bahwa hasilnya tidak melulu seperti yang diharapkan ? Lantas, kalau sudah begini siapa yang diuntungkan ? Yang berselingkuh, selingkuhan atau yang diselingkuhi ?

hatinya-digembok-aja-mas

(mas SM, pinjem gambarnya yah)

Halah…halah….bicara perselingkuhan itu memang tidak bisa dilihat secara hitam-putih saja. Yah…warna abu-abu mungkin, atau bahkan merah dan biru. Hihihihiihi….hayo…hayo…..yang mau investasi…mo investasi materi dan moril….kata Sm, modalnya perlu kuat iman. *nyengir mode-on*

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s