RINDU DALAM SECANGKIR KOPI

black-coffee-butterfly-1920x1080

Merindumu seperti menyesap kopi.

Hitam dan tanpa gula.

Menyesapnya perlahan menyadarkanku seketika dari mimpi.

Pahit.

Merindumu dan tak berbalas.

Begitu seterusnya sampai kopiku tandas.

Tak bersisa.

Tertinggal rindu yang tak selesai.

Bukan kamu yang tak nyata

Tapi rasa yang tak kunjung bersua.

-SELAMAT MENUNAIKAN RINDU-

MERINDU

Merindu itu jujur, sabda hati yang tak bisa dipungkiri.
Kata orang kau meracau.
Kataku tidak.
Kau hanya sedang jujur.
Meracaulah sepuasmu
Karena rindu terlalu luas untuk dirangkum
Meracaulah sejujurnya
Karena rindu terlalu indah untuk disembunyikan

 

 

MENULIS KARENA BUTUH

laptop-keyboard-protector_45889210

Mencoba menulis kembali setelah sekian lama tidak melakukan aktivitas ini memang bukan hal yang mudah. Tangan yang biasanya lincah menari di atas tuts ketik demi menampung  ide yang senantiasa membanjiri benak hingga mengejawantah menjadi aksara penuh makna mendadak menjadi beku dan kaku. Sebaris kalimat yang sudah dijalin dengan susah payah dengan mudahnya dihantam tombol delete hanya karena tidak merasa sehati dengan kalimat itu. Kata orang memulai itu memang tidak mudah, perlu determinasi dan mungkin untuk saya, saya tidak perlu terlalu peduli dengan pendapat orang mengenai tulisan saya. Karena saat ini yang penting adalah saya mau memulai menulis kembali. Saya butuh detoks, saya butuh melemaskan kembali jari-jari ini, saya butuh memperkaya benak dan pikiran saya kembali. Ya, saya menulis kembali karena saya butuh.

Biarkan aksara meledakkan maknanya;

Biarkan benak memuntahkan kegelisahannya…

MENGANDALKAN INTUISI

Judul tulisan ini kelihatannya berat dan terlalu serius. Ya, memang betul adanya, mempercayakan penjagaan dan pengasuhan anak pada orang lain memang hal yang berat dan serius. Terutama untuk ibu-ibu pekerja seperti saya, lebih spesifik lagi ibu-ibu pekerja yang tidak bisa dengan mudah menaruh kepercayaan pada orang lain berlabel Asisten Rumah Tangga (“ART”) yang beberapa tahun ke belakang  berita mengenai tindak tanduknya yang “aneh-aneh” membuat ibu-ibu pekerja seperti saya – kalau saja punya pilihan – rasanya mau resign dari pekerjaan saja.
Kurang lebih setahun yang lalu, saya dan suami memutuskan untuk mempercayakan penjagaan dan pengasuhan anak saya, Btari Azka Zakiya (biasa kami panggil Bee )di sebuah tempat penitipan anak (daycare). Keputusan yang dibuat dalam hitungan jam setelah beberapa hari sebelumnya sempat berandai-andai bagaimana kalau Bee kita titipkan di daycare mengingat si ibu pengasuh Bee sudah menunjukkan tanda-tanda tidak betah. Saya bahkan sudah sempat survey ke salah satu daycare yang letaknya di gedung perkantoran tepat di sebelah gedung di mana saya berkantor. Fasilitasnya premium, tapi entah kenapa saya merasa ada yang tidak klop. Mungkinkah pengasuhnya ? Entahlah, saya merasa walaupun fasilitasnya premium tapi tidak terasa rumah. Ada atmosfer yang tidak nyaman menurut naluri keibuan saya (?) Hari itu akhirnya tiba, selepas subuh si ibu pengasuh yang masih kerabat dekat suami saya tiba-tiba minta pulang kampung dengan berbagai macam alasan. Singkat cerita, akhirnya pagi itu, saya, suami dan Bee sudah di jalan dan masih belum memutuskan daycare mana yang kami tuju. Setengah perjalanan saya dan suami berdebat mengenai daycare mana yang akan kami pilih yang mana pertimbangannya ujung-ujungnya adalah mengenai biayanya. Akhirnya kami (tepatnya saya) memilih sebuah daycare yang terletak di dalam sebuah apartment yang saya pun bahkan belum pernah survey langsung ke sana. Saya hanya mengandalkan intuisi saya sambil berharap semoga kali ini intuisi saya tidak berkhianat. Sampai di sana kami langsung disambut oleh pengurus daycare, setelah dijelaskan mengenai segala fasilitas dan besarnya biaya, sampailah di saat yang paling sulit, melepaskan Bee. Sepanjang perjalanan saya sudah sibuk membayangkan reaksi Bee ketika akan kami tinggalkan di daycare  mengingat Bee anak yang sangat sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, jangankan beradaptasi, disapa orang asing saja dia bisa menjerit ketakutan dan berakhir menangis sesengukan di pelukan saya. Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti sama sekali. Bee langsung tenang bermain dengan beberapa anak-anak penghuni daycare dan tidak menangis sama sekali, bahkan saya yang meneteskan airmata ketika dalam perjalanan ke kantor. Ya, saya yang bergaya preman ini memang berhati hello kitty sejak bergelar Ibu. Sampai di kantor, saya langsung menghubungi daycare dan memastikan Bee baik-baik saja. hal itu berlangsung selam seminggu dan saya dibuat terkagum-kagum dengan kemajuan yang dialami Bee sejak dititipkan disana. Akhirnya kami memutuskan bahwa inilah pilihan terbaik untuk Btari, sampai sekarang genap setahun kami mempercayakan Bee kepada ibu-ibu pengasuh di sana. Kenapa saya akhirnya memilih daycare itu padahal saya belum pernah survey ke sana ? Sampai sekarang saya sendiri tidak tahu jawabannya, saya hanya percaya pada intuisi saya. Intuisi saya tidak berkhianat. Ternyata Bee memang cocok di sana, bahkan orang-orang sekitar saya menyadari perubahan positif dari Bee. Bee lebih percaya diri, Bee lebih ceria, yang jelas saya nyaman dan merasa aman mempercayakan Bee kepada ibu-ibu pengasuh di sana.
Bagaimana dengan saya dan suami sendiri ? Kami mulai terbiasa dan akhirnya merasa nyaman, walaupun bisa dibilang perjuangannya jadi berlipat kali karena harus menangani pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan ART. Tapi keutuhan kami sebagai tim diuji di sini. Tanpa diskusi panjang, tiba-tiba saja kami sudah berbagi berbagai macam tugas rumah tangga, mulai dari membereskan cucian sampai dengan urusan membeli makanan. Kami sering sekali membeli makanan dari luar, saya harus mengakui saya belum punya keterampilan yang cukup untuk meramu bahan-bahan makanan menjadi sajian yang nikmat untuk dimakan keluarga kecil saya. Suami sih memang belum pernah mengeluh, tapi saya yakin dompetnya sudah mulai menjerit kesakitan. Hahahahah….
Perjalanan masih panjang, perjuangan belum berhenti sampai di sini tapi paling tidak, saya, suami dan Bee adalah tim yang solid dan mampu menikmati pengalaman ini. Itu kata intuisi saya, dan lagi-lagi, tolong tetap setia ya intuisiku.
BEE'S TRIP

(OMONG) KOSONG

gothic9

Dia kumpulkan lembar demi lembar harapan,

kemudian menambal dan menyulam mimpi yang setiap kali koyak.

Begitu seterusnya sampai jarum keteguhannya menumpul.

Mimpi koyak…

Hanya tersisa kain compang-camping omong kosong.

AKU, KAMU, (KITA)

Sekedar berada di sini
Di sampingmu
Meresapi sepi

Sekedar berada di sini
Di sampingmu
Sebentar lagi

Aku
Kamu
Berulang kueja, berharap ada rangkaian aksara darinya yang bisa kueja menjadi kita.
Berharap kita tidak sekedar kemewahan yang hanya terjangkau oleh mimpi.

Aku
Kamu
Berulang kurapal, serupa mantra yang kiranya bisa meruntuhkan tembok dingin yang berdiri angkuh di antara aku dan kamu.

Kita
Adalah kemewahan yang belum bisa kujangkau selama hanya ada aku dan kamu.

SSSTTTT….

 

kalau ada bening yang harus disembunyikan
sembunyikan semua di balik topeng
birumu
merahmu

kalau ada luka yang harus ditutup
balut dengan senyummu
birumu
merahmu

lari sekuatmu
sembunyi sebisamu
sampai sesak
sampai tak bisa bernafas

Sssst….
Ada Dia yang tahu….
Sssst….
Ada Dia yang lihat…
Ssst…

gothic9